Ini Sosok Sarah Gilbert, Inisiator AstraZeneca yang Enggan Cari Untung

Rabu, 21/07/2021 06:57 WIB
Sarah Gilbert. (IDX).

Sarah Gilbert. (IDX).

Jakarta, law-justice.co - Baru-baru ini, nama Sarah Gilbert ramai diperbincangkan. Dia merupakan ilmuwan vaksin COVID-19 AstraZeneca yang rela melepas hak paten.

Sarah Gilbert mengungkapkan pada parlemen Inggris jika dirinya tak ingin mengambil hak paten penuh untuk vaksin ini.

"Saya tak ingin mengambil (hak paten). Sudah seharusnya kita bisa berbagi dan membiarkan semua orang membuat vaksin mereka sendiri," kata Sarah dikutip dari Reuters, Selasa (20/7/2021).

Sarah belum lama ini mendapatkan penghormatan dari para penonton Wimbledon sebelum pertandingan dimulai. Dilansir news.trust.org, disebutkan para penonton memuji upaya tim Sarah yang telah berkontribusi dalam perjuangan Inggris melawan COVID-19. Namun mereka memuji Gilbert dan staf National Health Service (NHS).

Sarah Gilbert merupakan profesor Vaksinologi di Universitas Oxford berusia 59 tahun. Tak hanya vaksin COVID-19, dia juga pernah mengembangkan berbagai vaksin untuk influenza dan vaksin Ebola.

Dikutip dari biospace.com, vaksin yang diciptakan oleh tim Sarah diumumkan pada 23 November lalu. Sudah diuji coba di Inggris dan Brasil dan manjur hingga 90%.

Vaksin AstraZeneca efektif mencegah penularan COVID-19 tanpa rawat inap atau kasus parah pada orang yang sudah disuntikkan. Oxford University dan AstraZeneca bekerja sama dengan perusahaan spinout Oxford Vaccitech yang merupakan startup besutan Sarah Gilbert.

Harga vaksin AstraZeneca per dosis bervariasi di beberapa negara misalnya US$ 2,15 di Amerika Serikat (AS). Kemudian di Uni Eropa US$ 3-4. Harganya paling murah jika dibandingkan dengan vaksin-vaksin lainnya.

(Ade Irmansyah\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar