Desmond J Mahesa, Wakil Ketua Komisi III DPR RI

Pentingnya Menjaga Letupan Suara yang Membuat Gerah Penguasa

Senin, 28/06/2021 14:49 WIB
H.Desmond J. Mahesa, Wakil Ketua Komisi III DPR RI (Ist)

H.Desmond J. Mahesa, Wakil Ketua Komisi III DPR RI (Ist)

Jakarta, law-justice.co - Hampir setiap hari dihadapan kita terhidang berita-berita mengenai kondisi bangsa dan negara. Ada berita gembira yang bernada positif penuh optimisme namun banyak juga berita duka yang mengabarkan tentang kondisi bangsa dan negara yang sesungguhnya.

Berita positif dan optimisme tentang kondisi bangsa dan negara dibutuhkan untuk terus membangun asa ditengah fakta tidak mengenakkan tentang situasi bangsa yang membuat kita semua harus waspada dan bijak menyikapinya.

Berita gembira tentang suatu keberhasilan dan ketimpangan setiap hari berpacu menghiasi halaman Koran, televisi bahkan di sosial media. Berita berita itu disikapi dengan beragam oleh para pemirsanya tergantung persepsi, kecenderungan sikap, kedalaman daya nalar serta pola pikirnya.

Berita tentang suatu keberhasilan pada umumnya akan ditanggapi dengan biasa biasa saja sebagai suatu hal yang lumrah karena pada hakekatnya adanya suatu pemerintahan itu salah satunya adalah untuk memajukan bangsa dan negara melalui program program pembangunan yang dijalankannya.

Berbeda halnya kalau berita atau informasi itu terkait dengan ketimpangan/ketidakberesan yang terjadi sebagai akibat dari kebijakan-kebijakan yang telah diambil oleh penguasa. Informasi atau berita seperti ini akan disikapi dengan cara yang berbeda. Bagi mereka para pemirsa yang menjadi pendukung penguasa tentu akan melakukan pembelaannya. Menyatakan bahwa informasi atau berita itu bersifat hoak dan hanya bertujuan untuk menjatuhkan nama baik penguasa.

Bukan hanya membela saja, mereka seringkali malah mencari pembenaran (bukan kebenaran) demi untuk menyelamatkan muka penguasa di hadapan rakyatnya. Para buzzer yang menjadi pendukung penguasa biasanya sangat rajin melakukannya dan mungkin karena memang itulah yang menjadi tugasnya.

Sebaliknya bagi mereka yang sedang beroposisi atau berseberangan dengan sikap penguasa, akan melihat berita atau informasi tentang ketimpangan t itu sebagai sasaran empuk untuk melancarkan kritik kritiknya. Tak jarang karena kritik dan bahkan” hinaannya” itu membuat mereka harus berhadapan dengan hukum karena dianggap menebarkan kebencian dan melawan penguasa yang sah pilihan mayoritas rakyat Indonesia.

Saat ini sudah banyak orang yang merasakan dinginnya tembok penjara sebagai akibat tulisan, cuitan atau kritik kritik yang ditujukan kepada penguasa. Meskipun sudah mendekam di penjara suara suara mereka tetap nyaring terdengar karena keyakinan akan nilai nilai kebenaran yang diperjuangannya.

Menjaga Ujaran Kebencian

Membenci itu mengandung makna merasa sangat tidak suka (tidak menyenangi) sesuatu yang dihadapinya. Dari kosa kata benci ini kemudian lahir istilah ujaran kebencian yang akhir akhir ini populer dalam dunia penegakan hukum terkait dengan pencemaran nama baik yang di lakukan oleh seseorang kepada yang lainnya.

Ucapan kebencian atau ujaran kebencian (Inggris: hate speech) adalah tindakan komunikasi yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan, ataupun hinaan kepada individu atau kelompok yang lain dalam hal berbagai aspek seperti ras, warna kulit, etnis, gender, cacat, orientasi seksual, kewarganegaraan, agama, dan lain-lainnya.
Dalam arti hukum, hate speech adalah perkataan, perilaku, tulisan, ataupun pertunjukan yang dilarang karena dapat memicu terjadinya tindakan kekerasan dan sikap prasangka entah dari pihak pelaku pernyataan tersebut, atau yang menjadi korbannya.

Baik dipandang dari sisi hukum negara maupun hukum agama, ujaran kebencian adalah suatu sikap atau perbuatan yang tidak baik dan sepatutnya kalau kita berusaha untuk menghindarinya. Namun berbeda halnya kalau kebencianitu kita tujukan untuk menyikapi sebuah perbuatan mungkar atau suatu penyimpangan, disini justru kita diwajibakannya.

Bahkan dalam agama Islam dinyatakan tiada iman bagi mereka yang hatinya tidak membenci kemungkaran yang terhidang dihadapannya. Hilangnya kebencian terhadap kemungkaran menunjukkan hilangnya iman dari hati seseorang yang mengaku percaya pada TuhanNya. Dari Abu Sa’id al Khudry ra, Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa diantara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangan. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika tidak mampu maka dengan hatinya dan itulah orang yang paling lemah imannya”.

Melawan kemungkaran/penyimpangan dengan hati dinilai sebagai derajat yang paling lemah mungkin karena tidak ada resiko apapun atas diri seseorang yang membenci kemungkaran dengan hatinya.

Hadits tersebut menunjukkan dalil yang jelas bahwa mencegah kemungkaran dengan tangan dan lisan adalah wajib sesuai dengan kesanggupannya, sementara membencinya dengan hati adalah diwajibkan dalam keadaan apapun juga.

Dengan demikian mengetahui kebaikan dan kemungkaran adalah modal dasar membenci kemungkaran yang ada dihadapannya. Sebab tidak mungkin seseorang membenci kemungkaran jika ia tidak memiliki pengetahuan akan batasan keduanya.

Seseorang yang memiliki pengetahuan dan perasaan benci terhadap kemungkaran berpotensi mengembangkan dirinya untuk dapat melakukan langkah-langkah berikutnya yaitu perbaikan atas penyimpangan/ kemungkaran yang diketahuinya sesuai dengan kemampuannya.

Membenci kemungkaran juga merupakan pertanda seseorang memiliki kepedulian terhadap lingkungannya. Ia merupakan karunia Allah bagi siapapun yang memilikinya. Membenci kemungkaran sejatinya muncul karena rasa cinta. Mencintai kebaikan bagi ummat manusia, menginginkan tegaknya harga diri dan kehormatan manusia sebagaimana fitrah yang telah mereka sandang sejak kelahirannya.

Saat ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita sedang dihadapkanpada situasi maraknya penyimpangan dan kemungkaran dimana mana. Praktek praktek korupsi telah merajalela merata dari pusat sampai ke daerah sebagai akibat lemahnya moral dan penegakan hukum yang tidak membuat pelakunya menjadi jera.

Penegakan hukum berjalan tebang pilih dan cenderung hanya menyasar pihak pihak tertentu saja karena pengaruh kekuasaan yang begitu terasa. Hutang negara semakin menggunung yang pasti akan membebani generasi berikutnya. Belum lagi kebohongan kebohongan yang dipamerkan oleh orang yang saat ini menjagi pemegang kuasa.

Mereka semua karena kekuasaan ada ditangannya seolah olah bebas memainkan kewenangannya untuk “membereskan” pihak pihak yang tidak disukainya dengan bebagai cara. Diantaranya dengan dibungkus melalui upaya penegakan hukum yang mengabaikan unsur keadilan sehingga mencederai hati nurani dan hak azasi manusia.

Sebagai warga dan anak anak bangsa apakah kita cukup berdiam diri saja menyikapi itu semua ?, Tidakkah kita tergerak untuk melakukan sesuatu untuk mencegah atau merubahnya ? atau sekurang kurangnya membenci didalam hati sebagai tanda bahwa masih adanya iman pada diri kita ?. Atau mungkin diantara kita ada juga yang justru mendukung kezoliman tersebut dengan berusaha mencari cari alasan pembenarannya?.

Belajar dari Kapal Titanic

Kira-kira 109 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 14 - 15 April 1912, kapal Titanic berangkat dari Queenstown, Irlandia menuju New York Amerika. Kapal itu membawa 2.200 orang.penumpangnya. Daftar penumpang yang menaiki Titanic untuk pelayaran perdananya juga termasuk beberapa orang terkaya di dunia.

Sayangnya, kapal Titanic dan juga para penumpangnya tak pernah sampai di New York, melainkan tenggelam di tengah Samudra. Pada hal Titanic pada masa itu disebut sebut sebagai kapal mewah terbesar yang pernah dibuat manusiaSemua ruangan dan pintu dirancang agar tahan air dan karenanya para insinyur yang membuat Titanic percaya bahwa kapal itu tidak dapat tenggelam oleh bencana apapun juga.

Beberapa hari pertama sejak pelayarannya, kapal ini berlayar mulus tanpa halangan suatu apa. Namun, pada pada pukul 11.40 malam waktu setempat tanggal 14 April 1912, Titanic menabrak gunung es disekitar 603 kilometer dari selatan Newfoundland di Samudra Atlantik utara.

Dalam bencana ini sekitar 705 orang selamat dengan naik sekoci dan sekitar 1.517 orang meninggal dunia.Alhasil Titanic tercatat sebagai salah satu bencana kelautan paling buruk sepanjang sejarah dunia.

Pasca terjadinya kecelakaan itu, para ahli telah mempelajari bencana, termasuk sisa-sisa kapal yang ditemukan di dasar laut pada 1985. Hasilnya menunjukkan bahwa Titanic memang tenggelam karena menabrak gunung es di samudera Atlantik Utara. Tapi pesan penting yang bisa diambil dari hasil penyelidikan ini sebenarnya bukan karena menabrak gunung esnya yang membuat Titanic tenggelam ke dasar Samudera.

Pesan pentingnya adalah rangkaian peristiwa yang membuat Titanic tenggelam sehigga menewaskan banyak penumpangnya. Para ahli percaya bahwa Titanic tenggelam karena kapal berlayar terlalu cepat ditengah kondisi lautan yang dipenuhi bongkahan es yang sangat besar ukurannya.

Selain hal tersebut, ahli juga berpikir bahwa Kapten Edward J. Smith kurang memperhatikan peringatan gunung es yang telah diterimanya. Konon kabarnya sebelum tenggelam, Titanic telah menerima rentetan radiogram yang dikirim oleh kapal kapal lain yang memperingatkan agar Titanic waspada.

Titanic diminta waspada karena malam itu bongkahan es berukuran besar sedang memenuhi jalur atlantik bagian utara. Tapi rupanya peringatan itu dianggap sebagai angin lalu saja. Mungkin ditambah dengan adanya keyakinan dan kesombongan bahwa Titanic adalah kapal mewah, canggih dan kuat yang tidak akan tenggelam oleh ancaman badai dan bencana lainnya.

Bahkan sang operator radiogram dikabarkan merasa terganggu dengan riuh nya peringatan hingga dia abaikan segala peringatan dan matikan perangkat radionya. Akibatnya terjadilah benturan jelang jam 23.40 dinihari dan jam 02.20 pagi kapal raksasa itu sudah hilang ke dasar samudera.

Mirip kiranya dengan kapal Titanic adalah apa yang terjadi dengan kapal yang bernama Indonesia. Jika peringatan peringatan dianggap sebagai angin lalu atau dianggap sebagai gangguan keamanan dan menebar kebencian maka tidak menutup kemungkinan kapal Indonesia akan tenggelam juga.

Kalau kapal sudah tenggelam maka baik mereka yang teriak lantang maupun diam seperti batu karang akan menuai akibatnya. Semua akan jadi korban tenggelamnya kapal negeri besar yang bernama Nusantara.

Lalu siapakah kiranya yang menjadi sang operator radiogram saat kapal Indonesia sedang berlayar menuju pantai idamannya?. Yang menjadi operator tentu saja adalah top penguasa, para pejabat atau orang yang diberikan kewenangan untuk mengatur dan menjalankan pemerintahan yang ada.

Kita berharap mereka tidak kalap lalu mematikan perangkat radionya sehingga peringatan peringatan itu dinilainya tidak pernah ada Sebab kalau ini yang terjadi berarti alarm bahaya bagi perjalanan bangsa.

Sebaliknya sebagai pengirim pesan peringatan, kita semua sebagai warga bangsa perlu terus mengirimkan pesan pesan itu untuk menyelamatkan seluruh penumpang yang ada didalamnya. Dengan harapan pesan pesan itu bisa dijadikan cambuk peringatan untuk memperbaikinya. Karena suatu pemerintahan itu kalau tidak diingatkan bisa menjelma menjadi suatu pemerintahan yang otoriter dan memonopoli kebenaran pada dirinya.

Menjaga Letupan Suara

Pentingnya menjaga letupan suara suara untuk memperingatkan penguasa dimaksudkan agar mereka tidak menjadi terlena. Sebab harus diakui saat ini banyak komponen bangsa yang sudah mulai terlena karena terhipnotis oleh mainannya.

Di kampus kampus sudah banyak mahasiswa dan dosen yang mulai kurang peduli dengan kondisi disekitarnya apalagi memikirkan nasib bangsa dan negaranya. Mereka asyik memainkan perannya seperti dijaman Orba dimana akhirnya kampus hanya menjadi menara gading yang indah dipandang tapi tidak terlalu berguna bagi masyarakat di sekitarnya. Pada hal perguruan tinggi seharusnya menjadi menara api yang bisa menerangi kawasan sekitarnya.

Di tengah kemarau panjang kampus yang peduli ini kita dikejutkan oleh goyangan BEM UI dengan kritik tajamnya ke penguasa dibawah label Jokowi The King of Lip Service-nya. Kritk dari BEM UI ini didukung sepenuhnya oleh Majlis Ulama Indonesia.

Sementara itu dilingkungan aktifis, juga sudah mulai hilang marwah perjuangannya. Sebagian malah sibuk menjadi pemuja penguasa untuk mendapatkan imbalan jangka pendek seperti jabatan sebagai komisaris misalnya. Para aktifis seperti kehilangan musuh bersama sehingga mengurangi semangatnya dalam memperjuangkan nilai nilai kebenaran yang diyakininya.

Di kalangan wakil rakyat, juga sudah mulai surut dan hanya terdengar sayup sayup suaranya. Karena lembaga wakil rayat saat ini sudah mengarah pada perannya seperti masa Orba yang tidak lagi bisa berpikir kritis terhadap penguasa. Mungkin hanya segelintir individu individu tertentu yang tetap istiqomah menyuarakan opininya. Tetapi secara kelembagaan sudah hampir tidak berdaya.

Jika wabah kepasrahan dan rasa putus asa untuk menjaga dan mempertahankan nilai nilai kebenaran dan kemaslahatan bersama ini sudah mulai menjangkiti anak anak bangsa terutam para pengenali kuasa, maka tentu ini akan sangat berbahaya bagi nasib perjalanan banga.

Oleh karena itu sebagai bagian dari anak anak bangsa yang peduli pada nasib bangsa ini maka harus dijaga letupan letupan suara yang bisa membuat gerah penguasa agar mereka kembali berpikir untuk putar haluan ke jalan yang benar dalam menjalankan roda pemerintahannya.

Sebagai anak anak bangsa harus tetap berisik untuk mengingatkannya. Yang dimaksud berisik disini misalnya saja rajin bersuara, memposting tulisan atau tayangan kebaikan disosial media demi kepentingan bersama.

Tidak perlu malu untuk disebut sebagai "raja copas” atau sejenisnya sepanjang pesan pesan atau tulisan yang kita share itu berisi susbstansi yang bukan hoak , fitnah atau berita bohong lainnya. Jangan risau disebut "pejuang WA” yang tidak akan mendapatkan imbalan apa apa. Jangan pula merasa minder dibilang "youtuber miskin viewer" seperti mereka yang telah memiliki banyak viewernya.

Tidak perlu berkecil hati disebut sebagai aktifis sosial media meskipun tidak nampak hasilnya secara materi atau bahkan dianggap sebagai hanya buang buang waktu saja. Jangan pula kemudian merasa surut dan kemudian menyerah karena cibiran dan bully-an para haters di sosial media yang dibayar oleh pemegang kuasa.

Hari ini Indonesia memerlukan orang orang yang peduli ditengah kondisi kelompok oposisi yang telah lunglai karena dibungkam oleh pihak penguasa.Bagaimanapun Indonesia butuh orang-orang berakal sehat dan punya nurani untuk membela kebaikan dan kebenaran yang diyakininya.Yang mau bergemuruh membakar semangat lewat sekecil apa pun tulisan/tayangan yang bisa kita share untuk kebaikan bersama.

Jangan menjadi orang pendiam di sosial media karena biasanya mereka yang paling berisik dan gaduh itulah yang akan viral dan trending di dunia maya.Diamnya orang baik akan membuat medsos menjadi sarana untuk merusak pola pikir banyak orang dan anak keturunan kita

Ingatlah.... dengan apa Indonesia merdeka?. Dengan tulisan-tulisan tajam Bung Karno dan Bung Hatta !. Dengan selebaran dan pamflet-pamflet yang banyak disebarkan keseluruh penjuru Nusantara.Dengan pidato-pidato yang bersemangat, menggelegar sehingga rakyat Indonesia pada waktu itu mau berjuang merebut kemerdekaannya.

Ingatlah...kisah burung pipit saat nabi Ibrahim menyampaikan risalahnya. Kisah burung pipit yang bolak balik membawa setetes air untuk memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim as. Ketika burung pipit itu ditanya mengapa melakukan hal demikian padahal api yang membakar Ibrahim sangat besar sehingga akan sia sia saja usahanya, burung pipit itu menjawab menjawab, "Agar Allah dan semua makhluk di muka bumi ini tahu aku ini berada dipihak yang mana".

Tulisan akan lebih mematikan dari peluru tajam.Gerakan jari kita di ponsel akan mengubah keadaan.Karena Tuhan tidak tidur dan akan selalu bersama pejuang kebaikan. Maka...jadilah orang yang berisik menebar memposting kebaikan, dan melawan kejahatan.

Sebagai penutup tulisan ini, kiranya menarik apa yang disampaikan oleh budayawan Emha Ainun Nadjib : “Saya sangat menyukai mereka yang ngoceh terus menerus tentang kebenaran. Daripada mereka yang “diam” menikmati kecurangan dan kedzoliman. Dunia ini masih dipimpin oleh orang yang lebih pi memilih kenyang meskipun dijadikan budak daripada memilih lapar tapi bertahan harga dirinya”.

 

(Tim Liputan News\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar