Usai Vaksin AstraZeneca, Trio Meninggal Alami Pembekuan Darah

Senin, 10/05/2021 12:40 WIB
Pemuda 22 tahun, Trio Fauqi Virdaus meninggal usai vaksin Astrazeneca (Kumparan)

Pemuda 22 tahun, Trio Fauqi Virdaus meninggal usai vaksin Astrazeneca (Kumparan)

Jakarta, law-justice.co - Komnas KIPI masih mengusut kasus pemuda 22 tahun, Trio Fauqi Virdaus, yang meninggal dunia sehari setelah disuntik vaksin AstraZeneca di Jakarta. Komnas KIPI belum bisa menentukan apakah kematian Trio berkaitan dengan penyuntikan vaksin, namun laporan medis menunjukkan Trio mengalami pembekuan darah (blood clot).


"Jadi sulit untuk menentukan, ya, mau mengkaitkan dengan katakanlah kematian akibat vaksin AstraZeneca. Kan memang sebetulnya yang dilaporkan blood clot. Blood clot kan bisa di otak, paru, perut, dan kaki. Di kaki dan perut biasanya enggak menyebabkan kematian," kata Ketua Komnas KIPI Prof Hindra Irawan Satari saat dikonfirmasi kumparan, Senin (10/5/2021).


"Biasanya yang menyebabkan kematian di otak dan di paru. Di paru dia enggak ada tanda-tanda sesak. Di otak [gejalanya] kejang, pusing. Namun gejala AstraZeneca juga ada pusing. Kemudian kejang, kata temen-temennya, kata keluarga enggak ada," imbuh dia.

Hindra menjelaskan, Trio divaksin AstraZeneca pada Rabu (5/5). Usai divaksinasi, ia merasakan gejala Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yakni demam, mual, hingga pusing. Namun, Trio tidak menghubungi nomor penanganan KIPI yang tertera di kertas vaksinasi dan memutuskan pergi ke dokter langganannya.

Dokter tersebut ternyata tidak praktik hari itu, sehingga Trio tak jadi berobat. Hingga siang esok harinya, Kamis (6/5), Trio dinyatakan sudah meninggal dunia saat tiba di RS Astra Nugraha, Jakarta Timur. Berdasarkan laporan, Trio diduga meninggal dunia akibat blood clot atau pembekuan darah.
Sekilas Blood Clot
Blood clot atau pembekuan darah adalah gangguan dalam proses koagulasi alias pembekuan darah. Biasanya, darah akan mulai membeku setelah terjadinya cedera untuk mencegah seseorang mengalami kehilangan darah dalam jumlah besar.

Namun, beberapa kondisi tertentu dapat memengaruhi kemampuan darah untuk membeku dan menggumpal dengan baik, sehingga bisa mengakibatkan perdarahan berat atau berlangsung lama. Mulai dari penyakit hati, defisiensi vitamin K, sampai efek samping obat-obatan tertentu.

 

Komnas KIPI Melakukan Investigasi


Kasus pembekuan darah akibat penggunaan AstraZeneca sebelumnya sudah beberapa kali terjadi di Eropa. Tetapi, Hindra menekankan belum bisa memastikan apakah Trio meninggal karena divaksin AstraZeneca.


Trio harus diautopsi untuk mengetahui secara cepat dan akurat apakah kematiannya berkaitan dengan penggunaan vaksin AstraZeneca.
Namun hal ini menurutnya sulit dilakukan, sehingga pihaknya akan terus melakukan investigasi untuk mengetahui keterkaitan kematian Trio dengan vaksin AstraZeneca.

"Untuk penyakit lain kita harus tindak lanjuti, kan ada dokter langganannya apa ada riwayat dia sakit jantung, asma, dll, yang dikaitkan dengan kematian almarhum kemarin. Kemudian kita juga lihat dokter UGD akan kita wawancara lagi. Jadi belum bisa dipastikan, sampau saat ini, bukti yang ada belum cukup kuat," lanjut dia.

 

Almarhum Tidak Memiliki Riwayat Sakit Berat


Mengenai kondisi dan riwayat penyakit almarhum, kakak Trio yang bernama Viki, menyebut adiknya tidak memiliki riwayat sakit berat. Termasuk tidak pernah terinfeksi COVID-19.


"Setahu saya tidak ya, dia enggak ada riwayat penyakit berat dan ibu saya bilang saat berangkat kerja dalam keadaan sehat. Hasil pemeriksaan tidak ada riwayat (COVID-19), sehat, orang waktu hari Minggu sebelumnya baru selesai ikut kontes burung," tutur Viki yang dihubungi terpisah.


"Tapi kerja dia memang sering lembur, overtime karena kan di bagian lapangan," tambah dia. Trio bekerja sebagai tenaga alih daya (outsourcing) di Pegadaian.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar