Survei Rachbini Institute: Kuliah Daring Cukup Efektif di Masa Pandemi

Minggu, 09/05/2021 21:40 WIB
Ilustrasi Kuliah Daring

Ilustrasi Kuliah Daring

Jakarta, law-justice.co - Hasil survei yang dilakukan dosen statistik Universitas Pancasila Widarto Rachbini menunjukan bahwa kuliah daring masih cukup efektif selama masa pandemi. Dari 1.342 mahasiswa yang menjadi responden, 53,5% di antaranya menyatakan sistem perkuliahan itu efektif.

"Dari jawaban mereka itu mengatkaan 53,5% cukup efektif dan 17,8% sangat efektif. Yang mengatakan tidak efektif sekitar 18% atau tidak lebih dari 30%," paparnya dalam webinar Transisi New Normal dan Masa Depan Sistem Kuliah Daring, Minggu (9/5/2021).

Dijelaskannya, survei sederhana itu dilakukan dengan menyebarkan kuesioner (google form) lewat WhatsApp dan Facebook. Meski tidak menggunakan metode sample random, dia mengatakan survei itu akurat dan terverikasi yang dapat dipantau setiap saat. Artinya survei itu sangat terbuka bagi pihak manapun dan Google sendiri yang memverifikasinya.

Menurutnya, untuk full daring atau full kelas merupakan pilihan minoritas mahasiwa. Sementara hybrid merupakan mayoritas dengan porsi 50-50 sebagai yang terbanyak. "Mahasiswa yang mengatakan efektif dari 1.025 permintaannya ke depan daring dan kelas itu 50-50 bahkan ada yang 100% tapi sedikit," imbuhnya.

Selain itu, dia memmbeberkan bahwa makin tinggi jenjang pendidikan mengatajan kuliah daring itu efektif. Hampir semua S3 mengatakan efektif, S2 sebagian kecil tidak, S1 pada umumnya lebih banyak efektif, dan diploma 50-50. "S2 dan S3 mungkin karena sambil bekerja makanya lebih nyaman dengan daring dan mereka juga mungkin lebih dewasa," jelasnya.

Dia juga menambahkan bahwa terkait jenis kelamin, mahasiswa perempuan lebih banyak mengatakan kuliah daring efektif dibandingkan laki-laki. Begitu pula dengan mahasiswa di kampus swasta yang mana perempuan lebih banyak mengatakan efektif dari pada laki-laki.

Untuk itu, berdasarkan survei Widarto berharapan pemerintah dapat menelaah lebih jauh terkait kuliah daring. Meski pandemi mungkin berakhir, dia menilai sistem perkuliahan tidak akan 100% kembali seperti dulu.

Lantas, persiapan tidak hanya sebatas kebijakan tetapi mulai melihat untuk membangun infrastruktur yang dibutuhkan. Di samping itu, kuliah daring tidak bisa diterapkan layaknya kuliah tatap muka. Bagaimana pun harus ada metode tersendiri yang bisa membuat kuliah daring lebih interaktif.

 

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar