Kartini dalam Industri Transportasi Modern

Bekerja dengan Hati di Tengah Kerasnya Industri Kereta Api

Senin, 03/05/2021 13:19 WIB
Humas Daops I Jakarta Eva Chairunissa (Foto: Dok. KAI)

Humas Daops I Jakarta Eva Chairunissa (Foto: Dok. KAI)

law-justice.co - Namanya akrab dikenal sejak 10 tahun terakhir, informasi yang terkait dengan BUMN KAI baik lokal maupun jarak jauh dikuasainya. Walau industri kereta api dikenal keras, namun dirinya mampu menaklukkan dan menjadi Srikandi dalam memajukan industri kereta api tanah air. Walau tidak pernah terbesit dalam pikirannya untuk berkarir dalam industri kereta api yang dikenal sebagai dunia lelaki yang keras. Kini dirinya mampu membuktikan, bahwa perempuan pun mampu berhasil memajukan BUMN Kereta Api.

Ya, Eva Chairunissa, namanya makin dikenal luas setelah berhasil mengubah citra kereta api commuter yang dulu dikenal jorok, kini menjadi lebih modern. Menjadi sebuah sinergi dengan kebijakan direksi yang ingin mengembangkan industri perkeretaapian yang maju dan modern di tanah air.

Eva Chairunissa atau yang akrab disapa Eva ini memulai karir di industri kereta api sejak tahun 2012. Dia bercerita, karirnya dulu adalah menjadi seorang presenter TV swasta nasional dan jurnalis. Kecintaannya dengan industri kereta api diakui sudah lama, dimulai dari seringnya menggunakan transportasi publik yang dulu sedang bertranformasi menjadi industri tranportasi modern dan manusiawi.

"Saya bergabung dengan kai sejak tahun 2012, kebetulan secara pribadi saya menyukai hal-hal yang berkaitan dengan transportasi publik dan kebetulan saat itu KAI sendiri juga sedang dalam tahap melakukan berbagai perubahan sistem dan revitalisasi melalui sejumlah programnya seperti penertiban dan penataan stasiun," katanya kepada Law-Justice.co

"Pada saat mendapat kesempatan ditawarkan untuk menjadi humas di manajemen operator KRL yakni salah satu anak perusahaan KAI yang saat itu bernama PT KCJ kemudian berubah menjadi PT KCI dan sekarang PT KAI Commuter. Saya merasa saat itu adalah kesempatan menarik dan menantang  untuk saya berkarir dibidang lain dalam hal ini komunikasi. Sehingga saya memutuskan untuk bergabung dengan PT KAI," tambahnya.

Dia menceritakan pengalamannya dari industri media pertelevisian akhirnya harus nyemplung ke dunia industri yang dikenal keras. Dia pun mengakui membutuhkan waktu untuk belajar soal dunia perkeretaapian yang dikenal dekat dengan dunia lelaki. Namun, Eva sendiri tidak putus arang, dirinya ingin berkembang untuk mengembangkan industri yang sudah puluhan tahun tidak berusaha bertranformasi.

"Dalam perjalanannya diawal berkarier di KAI sangat banyak momen besar yang dilalui pada saat KAI melakukan perubaham sistem secara besar-besaran, revitalisasi, penertiban dan penataan stasiun termasuk di lingkup KRL. Hal-hal itu memberikan banyak pembelajaran secara langsung untuk saya yang baru di dunia perkeretaapian," tandasnya.

"Sebetulnya tidak ada niat khusus pindah dari jurnalis namun saat itu kebetulan ada dari KAI membuka kesempatan untuk bergabung, dan saya berpikir kenapa tidak mencoba untuk berkarier dibidang yang berbeda sekaligus menjadi pembelajaran dalam berkarier di bidang lain," cerita Eva ketika ditanya alasannya memutuskan untuk pindah haluan karir di BUMN Kereta Api.

Dia pun berbagi pengalaman suka dan duka ketika berkarir dan menjaga arus informasi publik dan citra perusahaan publik transportasi kereta api. Tidak mudah memang, mengubah image di kepala masyarakat soal dunia kereta api yang puluhan tahun dikenal bobrok dan ketinggalan zaman. Ya, dengan Direksi yang waktu itu dipimpin oleh Ignatius Jonan yang mulai menjabat sejak 2009, merasa perlu orang yang mengubah citra PT KAI menjadi perusahaan milik negara yang modern.

Ya, waktu itu Jonan sedang berjuang berevolusi memperbaiki pelayanan baik kereta api commuter maupun kereta api jarak jauh. Programnya waktu itu, menghapus semua pedagang asongan di stasiun dan dalam gerbong kereta api, perbaikan sistem persinyalan, perbaikan pelayanan dengan memberikan kereta AC untuk kelas ekonomi dan mengganti semua kereta api commuter dengan yang lebih modern dan manusiawi.

Sehingga, PT KAI pada saat ini dinilai berhasil menjadi sebuah perusahan transportasi publik yang memiliki standar pelayanan terbaik hampir setara dengan kualitas pelayanan di beberapa negara ASEAN yang dikenal maju, bersih, disiplin tanpa vandalisme.

Belajar Menyukai Industri Kereta Api
Eva bercerita banyak soal suka dan dukanya ke industri yang dulu tidak pernah dipelajarinya. Apalagi di saat masuk, perubahan kultur perusahaan dan pelayanan sedang dilakukan. Kata dia, di situlah dirinya tertantang untuk menyukseskan perubahan besar dalam tubuh BUMN Perkeretapian.

"Sangat banyak suka duka yang dilalui termasuk pada saat kita harus dapat menyampaikan ke masyarakat terkait perubahan-perubahan yang dilakukan KAI semata-mata untuk perbaikan transportasi ka depannya. Karena pada saat itu di tahun 2012 diawal berbagai perubahan kebijakan terkait KRL Jabodetabek dilakukan sangat banyak pro dan kontra dari masyarakat," ungkapnya.

"Disinilah tantangan yang sangat besar untuk kita terus menyampaikan ke masyarakat tujuan utama untuk bahwa perubahan dilakukan untuk pengembangan transportasi publik khususnya kereta api kedepannya. Melakukan sosialisasi berbagai kebijakan baru ke seluruh stakeholder juga menjadi bagian dari suka duka saat menjalani pekerjaan saat itu. Apalagi saat itu cukup banyak juga pihak yang kontra dengan berbagai kebijakan yang diberlakukan," tambahnya.

"Tapi ada kepuasan sendiri hingga pada akhirnya masyarakat mulai memahami bahwa yang dilakukan saat itu untuk menuju sebuah kondisi yang lebih baik lagi dan masyarakat mulai mengikuti aturan-aturan yang disosialisasikan dengan tertib,"pungkas Eva yang hobi bersepeda.

Eva bergabung ke PT KAI dimulai dari 2012 hingga 2015 sebagai Manager Humas PT KCI dan 2016 s.d 2019 VP Komunikasi PT KCI lalu karirnya meningkat pada tahun 2019 hingga saat ini mengemban amanah Kepala Humas PT KAI Daop 1 Jakarta yang melayani kereta api jarak jauh dan jarak menengah di Pulau Jawa.

Soal emansipasi perempuan, menurut Eva, dirinya tidak pernah mengalami kesulitan untuk mengikuti pergerakan yang membutuhkan etos besar dan penuh tantangan. Misalnya, dirinya harus ikut mengecek jalur-jalur kereta api yang berhenti beroperasi di beberapa daerah di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Walau di tengah hutan dan di perbukitan yang sepi, dia merasa itu sebagai bentuk pengabdian.

"Sejauh ini tidak ada kendala, menurut saya KAI merupakan salah satu perusahaan yang sangat terbuka dalam memberikan kesempatan perempuan ikut  berkarya," ungkapnya.

Eva berbagi pengalamannya ketika harus berjibaku dengan arus informasi pelayanan kereta api commuter dan kereta api jarak jauh di Daops I Jakarta. Kata dia, kedua bagian kerja perusahaan PT KAI itu walau berbeda pelayanan namun memiliki tantangan yang berbeda.

"Secara tupoksi utama tidak yakni membangun citra perusahaan dan menyampaikan kebijakan perusahaan ke seluruh stakeholder serta bagaimana menjaga hub baik dengan stakeholder internal dan eksternal. Yang membedakan hanya lingkup usahanya, kalau dulu sewaktu di KCI lingkupnya sebagai operator sarana dalam hal ini krl. Sementara di KAI Daop 1 Jakarta selain sebagai operator sarana kereta api jarak jauh dan lokal. Daop 1 Jakarta juga sebagai operator prasarana dalam hal ini pengelolaan stasiun, listrik aliran atas, jalur rel dan persinyalan, sehingga lebih luas lagi scoope dan kembali lagi buat saya lebih besar lagi tantangannya untuk terus berkarya memajukan KAI," jelasnya.

Keluarga dan Melayani Masyarakat
Soal urusan keluarga dan profesionalisme dalam melayani publik, merupakan tantangan tersendiri bagi ibu yang memiliki dua putri ini. Wanita yang delapan tahun menjadi insan pertelevisian merasa ragam dinamika di PT Kereta Api Indonesia (Persero) telah dilalui, dirinya berjibaku meladeni pertanyaan jurnalis dan stake holder lainnya.

Apalagi dalam situasi pandemi seperti ini, Eva menilai dukungan keluarga menjadi begitu penting. Dia pun berusaha sebaik mungkin untuk membagi waktu antara karir dan keluarga terutama buah hatinya.

“Support dari keluarga sangat penting. Dengan keluarga tetap ada pembagian waktu khusus semaksimal mungkin, disaat free secara full digunakan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga,” imbuhnya

Eva mengaku pekerjaan saat ini menuntut dia harus siap siaga bekerja 24 jam, sewaktu-waktu dibutuhkan memberi pernyataan pers bahkan ketika dini hari. Ia mencontoh kondisi Covid-19 ini banyak sekali yang membuat humas perkeretaapian ini harus standby dari pagi sampai larut hari.

"Terkadang kami juga baru kirim rilis jam 1 pagi, intinya begitu suatu kebijakan bisa diinformasikan ke media, kita ingin mengirim informasi secepat mungkin," jelas Alumnus Universitas Indonesia jurusan Psikologi itu.

"Dalam hal bekerja dukungan dari keluarga merupakan salah satu hal yang sangat penting, sejauh ini seluruh keluarga saya sangat mendukung saya untuk terus berkarya, tentunya anak-anak dan keluarga tetap menjadi prioritas utama yang terpenting di sini. Bagaimana kita terus dapat menjaga komunikasi dan memberikam perhatian penuh untuk keluarga dan anak-anak melalui berbagai cara. Apalagi saat ini juga perkembangan tekhnologi sangat membantu untuk kita fapat terus berkomunikasi tanpa batas waktu dan ruang," tambah Eva.

Dia pun berusaha memaksimalkan aktifitasnya dengan keluarga ketika sedang libur dari pekerjaannya. Menghabiskan waktu yang efektif bersama dengan keluarga dinilainya menjadi energi tersendiri untuk terus berkarya.

"Di luar waktu kerja, sepenuhnya aktifitas saya gunakan untuk bersama anak-anak dan keluarga secara efektif. Kemudian meskipun harus bekerja saya juga tetap menyempatkan diri apa yang menjadi kebutuhan anak-anak dan keluarga setiap harinya saya siapkan sendiri sebelum berangkat meskipun ada yang ikut membantu. Namun paling tidak kita tetap harus menyempatkan waktu untuk memastikan bahwa semua yg dibutuhkan dapat terpenuhi dengan baik, sebagai contoh pagi hari sebelum bekerja saya pasti selalu menyempatkan untuk menyiapkan makanan khusus untuk anak-anak pada hari itu," ungkapnya.

Eva pun memiliki filosofi hidup yang saling mendukung antara pekerjaan dan keluarganya. Menurut Eva, dengan melakukan pekerjaan untuk sebuah kebaikan pasti akan mendapatkan manfaat yang baik pula.

"Saya selalu meyakini Apapun yang kita lakukan, jika kita berniat untuk sebuah kebaikan maka pasti akan selalu ada jalan kita melalui dan memberikan memberikan manfaat yang baik untuk kita sendiri ataupun orang lain. Sama hal nya seperti bekerja, saya pribadi memiliki niat khusus dalam bekerja baik itu yg ditujukan untuk anak-anak dan keluarga atau pun orang lain sehingga saya yakin akan selalu ada kemudahan untuk saya menjalaninya sebagai seorang ibu yang bekerja serta manfaatnya untuk anak saya, keluarga ataupun orang lain," bebernya.

"Atau sama halnya dengan berolahraga, saat menyempatkan waktu berolahraga ada niat khusus disana yang tentunya saya yakin akan bermanfaat untuk  anak-anak, keluarga, orang lain atau pun saya secara pribadi," tambahnya.

(Yudi Rachman\Yudi Rachman)

Share:




Berita Terkait

Komentar