Gebrak Minta Polisi Bebaskan Ratusan Peserta Aksi May Day

Sabtu, 01/05/2021 21:30 WIB
Buruh menggelar aksi memperingati hari buruh atau May Day di Jakarta, Sabtu (1/5). Dalam aksinya mereka meminta pemerintah untuk mencabut Omnibus Law dan memberlakukan upah minimum sektoral (UMSK) 2021. (Robinsar Nainggolan/Law-Justice)

Buruh menggelar aksi memperingati hari buruh atau May Day di Jakarta, Sabtu (1/5). Dalam aksinya mereka meminta pemerintah untuk mencabut Omnibus Law dan memberlakukan upah minimum sektoral (UMSK) 2021. (Robinsar Nainggolan/Law-Justice)

law-justice.co - Juru bicara Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), Nining Elitos, menyampaikan bahwa ratusan orang ditangkap aparat kepolisian dalam aksi peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day di Kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Sabtu (1/5/2021).

Nining mengungkapkan, dari jumlah tersebut terdapat dari berbagai elemen termasuk buruh, mahasiswa hingga pelajar.

"Yang di tangkap, pihak buruh ada 3 orang, mahasiswa dan pelajar ada sekitar lebih kurang sekitar 200-300 orang," kata Nining kepada wartawan, Sabtu sore.

Kendati begitu, Nining mengatakan pihaknya masih mencoba memastikan jumlah pasti dari massa yang diamankan. Pihaknya juga akan melakukan pendampingan advokasi.

Nining menuturkan, pihaknya sangat menyayangkan terhadap aksi penangkapan sejumlah massa tersebut. Padahal, menurutnya, pihaknya menggelar aksi secara damai hingga mematuhi protokol kesehatan.

"Namun sangat disayangkan aksi tersebut berujung pengamanan terhadap massa, padahal mereka bagian dari gerakan rakyat," tuturnya.

Lebih lanjut, Nining dan pihaknya mendesak agar para massa yang diamankan aparat tersebut segera dibebaskan.


"Kita mendesak agar membebaskan para mahasiswa, buruh, pemuda, pelajar yang di tangkap di bebaskan tanpa syarat. Bertepatan 1 Mei rakyat masih mendesak untuk di cabut kebijakan,aturan yang semakin merugikan rakyat," tandasnya.

Sebelumnya, polisi mengklaim telah mengamankan sejumlah massa pada aksi peringatan May Day di Jakarta hari ini. Mereka diantaranya rekan-rekan mahasiswa Papua hingga sejumlah yang diklaim sebagai kelompok Anarko.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar