KKB Papua Dikaitkan dengan Agama, Pakar Sindir Natalius Pigai

Sabtu, 01/05/2021 09:29 WIB
Kaitkan KKB Papua dengan agama, Natalius Pigai disindir Reza Indragiri Amriel( foto; bataraonline.com)

Kaitkan KKB Papua dengan agama, Natalius Pigai disindir Reza Indragiri Amriel( foto; bataraonline.com)

law-justice.co - Pernyataan mantan Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai yang mengaitkan kelompok kriminal senjata (KKB) Papua dengan agama disindir oleh pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel. Menurut Reza, teroris tak semata hanya berakitan dengan agama.

Diketahui, sebelumnya Natalius Pigai menyebut, pelabelan teroris terhadap anggota KKB Papua itu otomatis menempatkan pemeluk agama Kristen sebagai teroris. Reza lantas menyinggung perbincangannya dengan salah seorang pejabat BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) di salah satu stasiun TV lokal sekitar dua tahun lalu.

“Saya sempat ajukan pertanyaan ke seorang pejabat BNPT. Apakah terorisme semata-mata berkaitan dengan agama?” ujar Reza dalam keterangannya, Jumat (30/4/2021).

“Dia menjawab, tidak. Bahkan pejabat tersebut menyatakan, ada yang lebih berbahaya, yaitu separatisme,” sambung Reza.

Secara pribadi, dirinya mendukung pemerintah yang mengkategorikan KKB di Papua sebagai kelompok teroris.
Menurut Reza, mengacu literatur, KKB di Papua memiliki kemiripan dengan Nationalist Dissident Terrorism yang paling tidak beroperasi secara lokal.

Memang, katanya, sejenak muncul kesan bahwa naik kelasnya KKB di Papua menjadi kelompok teroris merupakan dampak kegagalan pemerintah dalam meredam beranak-pinaknya perilaku kekerasan masif kelompok tersebut.

Kegagalan itu menurutnya berakibat KKB semakin mengandalkan aksi-aksi brutal. Termasuk ke warga sipil sebagai modus pergerakan mereka.

“Juga terkesan bertambah satu lagi musuh negara. Musuh berupa kelompok terorganisasi,” terangnya.

Di sisi lain, muncul persepsi berbeda. Ketika mereka masih disebut sebagai KKB, maka aksi mereka hanya dianggap kriminal biasa. Sehingga pemikiran yang muncul, cukuplah kriminal dihadapi oleh polisi.

“Betapa pun tindak kriminalitas harus dilawan, namun karena saya bukan korban atau sasaran si kriminal, maka saya merasa KKB bukan pihak yang harus juga saya lawan secara langsung,” papar dia.

Namun kini, Alumnus Fakultas Psikologi UGM menyebut, posisinya sudah berbeda karena pemerintah telah melabeli KKB teroris.

“Terhitung sejak pelabelan teroris, memberikan justifikasi yang legitimate bagi setiap komponen bangsa untuk menyikapi organisasi teroris itu sebagai musuh bersama yang harus diberantas secara cepat, tegas, terukur, tuntas,” tutupnya.

(Nikolaus Tolen\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar