Gara-gara Nadiem, Jokowi Abaikan Suara NU dan Muhammadiyah

Kamis, 29/04/2021 13:56 WIB
Presiden Jokowi disebut abaikan suara NU dan Muhammadiyah ketika kembali menunjuk Nadiem Makarim sebagai Mendikbudristek  (Tempo)

Presiden Jokowi disebut abaikan suara NU dan Muhammadiyah ketika kembali menunjuk Nadiem Makarim sebagai Mendikbudristek (Tempo)

law-justice.co - Presiden Joko Widodo tetap mempercayakan Nadiem Makarim untuk menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek). Langkah Jokowi itu dinilai sebagai sebuah bentuk keabaian Jokowi terhadap suara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Seperti diketahui, saat isu reshufle jilid II berhembus, nama Nadiem disebut sebagai orang yang kuat dicopot Jokowi. Dan penggantinya disebut-sebut berasal dari Muhammadiyah.

“NU dan Muhamamdiyah sudah bersuara minta Nadiem dicopot, namun Jokowi mempertahankannya dan mengangkatnya menjadi Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Ini menunjukkan Jokowi tak mendengar suara dua ormas Islam terbesar di Indonesia,” kata pengamat politik Muslim Arbi, Kamis (28/4/2021).

Menurut Muslim, Nadiem masih dipertahankan menunjukkan kuatnya pengaruh Megawati Soekarnoputri di pemerintahan Jokowi. “Nadiem menemui Megawati sebelum ada isu reshuffle termasuk dorongan mencopot Nadiem,” papar Muslim.

Kata Muslim, Megawati mempunyai kepentingan menempatkan Nadiem menjadi Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi untuk memasukkan pengaruh ideologi Sukarno di bidang pendidikan. “Termasuk memasukkan paham Trisila dan Ekasila dalam kurikulum pendidikan di Indonesia,” jelas Muslim.

Muslim mengatakan, Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin yang seorang ulama tidak berdaya menghadapi kelompok kecil yang mendukung Nadiem. “Islam sebagai mayoritas di Indonesia tidak mempunyai posisi sentral di pemerintahan. Umat Islam hanya menjadi pendorong mobil mogok,” ungkapnya.

Ia juga menyesalkan kalangan oposisi kurang gigih bersuara dan berkolaborasi dengan kalangan umat Islam dalam menghadapi penguasa saat ini. “Perlu strategi dalam menghadapi rezim yang tidak mendengar aspirasi umat Islam,” tutupnya.

 

(Gisella Putri\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar