Gara-gara Paul Zhang dan Waloni, Ngabalin dan Nasrullah Debat Panas

Kamis, 22/04/2021 06:19 WIB
Debat panas Ali Mochtar Ngabalin deng Teuku Nasrullah soal Paul Zhang dan Ustaz Yahya Waloni (youtube)

Debat panas Ali Mochtar Ngabalin deng Teuku Nasrullah soal Paul Zhang dan Ustaz Yahya Waloni (youtube)

law-justice.co - Polisi tengah memburu Jozeph Paul Zhang karena diduga menista Agama Islam. Polri bahkan sudah memasukan Pzul Zhang dalam daftar pencarian orang (DPO). Meski begitu, perbincangan soal Paul Zhang masih panas hingga saat ini, sehingga Ali Mochtar Ngabalin terlibat debat panas dengan pakar hukum Teuku Nasrullah.

Salah satu sesi diskusi di sebuah tv swasta, ada argumen yang masing-masing disampaikan Teuku Nasrullah dengan Ali Ngabalin. Teuku menyampaikan banyak kasus pelecehan agama lain yang tak hilang begitu saja seperti contoh kasus di Bali. Namun, ia menekankan saat ini yang sering terjadi adalah pelecehan terhadap agama Islam.

"Kalau pelecehan terhadap agama lain bukan berarti tidak ada, ada. Sebenarnya itu juga harus diproses, karena UU ini tidak mengatur pelecehan terhadap agama tertentu. Tidak, (tapi) semua agama," kata Nasrullah seperi dikutip pada Rabu(21/4/2021).

Dia menekankan hambatan persoalan penistaan agama bukan dari Undang-undang. Namun, karena lebih terkait penegakkan hukum. "Jadi, penegakan hukum tadi saya tertarik dan salut dengan Polri dalam kasus ini. Cepat langsung ditetapkan sebagai tersangka. Tapi, ini jangan sekedar untuk meredam emosi," sebut Nasrullah.

Menurutnya, masyarakat belum puas selama Jozeph belum ditangkap aparat dan diproses hukum di Tanah Air. Pun, pemerintah memiliki kemampuan untuk meringkus tersangka yang berada di luar negeri tersebut. Ia menyinggung perlu adanya political will dari Presiden Jokowi dalam persoalan ini.

"Baik KPK, maupun polisi telah beberapa kali menunjukkan beberapa prestasi gemilang dalam membawa dan menangkap tersangka-tersangka pelaku kejahatan di luar negeri ke Indonesia ketika ada political will dari presiden. Persoalannya apakah kasus ini sampai ke titik political will presiden," jelas Nasrullah.

Bagi dia, jika Jokowi sudah menginstruksikan Polri untuk menangkap Jozeph maka dalam waktu tak lama yang bersangkutan bisa diciduk. "Begitu Presiden tangkap dia. Saya yakin besok lusa dalam seminggu, Polri sudah berhasil menangkap itu," tuturnya.

Kemudian, ia menekankan keinginan Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo terkait proses hukum tidak boleh tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Ia mendukung hal tersebut. Namun, ia mengingatkan agar jangan juga tumpul ke kiri tajam ke kanan. "Anda terjemahkan sendiri. Saya rasa kita semua bisa memahami," sebut Nasrullah.

Giliran Ali Ngabalin menyampaikan tanggapannya. Ia merepons dengan mengatakan polisi itu sebagai alat negara sehingga seluruh kebijakan harus tegak lurus terhadap penegakan hukum.

"Maka itu, kita yang memiliki kemampuan intelektual agak baik ini, seperti orang sekolahan seperti forum ini juga, memang harus positive thinking terhadap kerja-kerja yang dilakukan kepolisian," ujar Ali Ngabalin.

Dia menyebut sebagai alat negara, polisi mesti netral dan tidak hanya ke satu pihak saja. Ia menyinggung penceramah ustaz Yahya Waloni yang dalam materi ceramahnya kerap menghujat nama tertentu seperti dirinya hingga Wakil Presiden Ma`ruf Amin.

Ngabalin bilang ia bisa saja melaporkan Yahya ke polisi. Namun, dikhawatirkan ada anggapan kriminalisasi ulama.

"Kalau saya melaporkan dia, apa yang keluar? Melakukan kriminalisasi ulama. Lah, terus di mana kamu orang menempatkan polisi. Kalau kamu sekarang desak polisi ini," sebut Ngabalin.

Dia geram dengan cara Yahya yang pasti materi ceramahnya di mimbar menghujat tokoh-tokoh pemerintah. Bila ia mempolisikan Yahya maka dianggap orang pemerintah melakukan kriminalisasi.

"Di situlah saya bilang pakai otak dan hatimu sehingga kalau kita menghujat dan mencaci maki orang lain maka jangan, hati-hati juga. Karena kita semua percaya kepada Tuhan, semua meyakini bahwa agamanya pasti paling benar," jelas Ngabalin.

"Saya mau bilang berikan kepercayaan sepenuhnya kepada kepolisian negara Itu adalah alat negara. Biarkan secara profesional menjalankan tugas-tugasnya," tuturnya.

 

(Gisella Putri\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar