Airlangga: China Ditekan Batasi Pasokan Vaksin Corona Untuk RI

Minggu, 11/04/2021 16:40 WIB
Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) Airlangga Hartarto (Iconomics)

Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) Airlangga Hartarto (Iconomics)

law-justice.co - Sejumlah negara produsen vaksin corona terbesar di dunia tengah mengalami gelombang ketiga lonjakan kasus COVID-19 dalam beberapa pekan terakhir. Menko Perekonomian sekaligus Ketua KPCPEN Airlangga Hartarto berpendapat ini harus diwaspadai, karena bisa mempengaruhi pasokan vaksin di Tanah Air.

"Imunisasi sudah mencapai 13 juta, dan 13 juta itu dari target 182 juta. Jadi kita masih punya target yang harus dicapai, dan target Bapak Presiden pada Juni, Juli, itu bisa 70 juta penduduk. Sehingga tentu yang paling penting sekarang adalah bagaimana cara kita memperoleh vaksin," kata Airlangga dalam launching Vaksinesia, Minggu (11/4/2021)

"Dengan adanya third wave itu seperti Amerika melarang ekspor vaksin. Inggris juga membatasi, Eropa membatasi, India membatasi, bahkan juga China juga ada tekanan untuk membatasi," imbuhnya.


Sebagaimana diketahui, sumber pasokan vaksin di Indonesia berasal dari beberapa negara tersebut. Di antaranya AstraZeneca dari GAVI COVAX yang disuplai India dan Sinovac dari China.


Oleh sebab itu, Airlangga menekankan pentingnya pendekatan beragam dalam penyediaan vaksin. Sehingga pemerintah tak bergantung kepada satu produsen dan target vaksinasi di Indonesia bisa cepat tercapai.


"Penting bagi Indonesia untuk multisourcing, tidak bergantung pada satu. Kita sudah memperoleh empat jenis vaksin yang berbeda," jelas Airlangga.
"Nah, tentunya kita berharap apa yang dijanjikan bisa dikirim sesuai yang dijanjikan. Sehingga jadwal vaksinasi bisa tercapai. Kalau semua bisa dilaksanakan maka kepercayaan masyarakat itu tumbuh," lanjutnya.

Airlangga berharap dengan lancarnya program vaksinasi dan pengetatan PPKM mikro, ekonomi nasional bisa segera pulih. Namun, ia kembali meminta masyarakat untuk tidak lengah meski program vaksinasi berjalan lancar. Musababnya pandemi COVID-19 belum berakhir.


"Jadi walaupun kita lihat terjadi penurunan kasus, penambahan kasus aktif sudah single digit, demikian pula kesembuhan sudah 88/89 persen di atas global, namun pandemi belum berakhir. Kita tidak boleh `gegabah` untuk menganggap pandemi sudah selesai," pungkas dia.

Kemenkes Akan Pesan 90 Juta Vaksin Sinovac, Antisipasi AstraZeneca Tertunda


Sebelumnya, Menkes Budi Gunadi Sadikin melaporkan pihak AstraZeneca hanya bisa mengirimkan 20 juta dosis vaksin ke Indonesia di tahun ini. Jumlah tersebut berbeda dengan kesepakatan awal antara Bio Farma dengan AstraZeneca lewat skema B2B (business to business). Saat itu, AstraZeneca menyanggupi 50 juta dosis yang didatangkan secara bertahap mulai Mei 2021.


Budi menuturkan, sisa 30 juta dosis vaksin AstraZeneca itu rencananya akan dilanjutkan pada 2022, tepatnya pada kuartal II. Pihaknya tak setuju dan segera melakukan komunikasi dengan AstraZeneca.


Di sisi lain, ia telah berdiskusi dengan China untuk memesan 90-100 juta dosis vaksin Sinovac. Namun jika China memutuskan pembatasan ekspor vaksin seperti India, Eropa, dan Inggris, maka Indonesia harus mencari suplai baru sebagai langkah antisipasi.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar