Gawat! Pengusaha Konstruksi: Proyek Infrastruktur Jokowi Bisa Mubazir!

Minggu, 11/04/2021 12:09 WIB
Ilustrasi Pembangunan Infrastruktur Presiden Joko Widodo (Malang TODAY)

Ilustrasi Pembangunan Infrastruktur Presiden Joko Widodo (Malang TODAY)

law-justice.co - Berbagai macam proyek infrastruktur dibangun di tanah air sejak tahun 2014.

Mulai dari jalan tol, pelabuhan, bandara, jembatan, bendungan, lumbung pangan, dan sebagainya. Di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), infrastruktur memang menjadi salah satu prestasi andalannya.

Di balik proyek infrastruktur, ada BUMN yang ditugaskan negara untuk membangunnya. BUMN itu pun juga menggaet vendor-vendor lokal untuk membantu pengerjaannya.

Namun, di balik ajakan kerja sama itu, vendor lokal harus menghadapi berbagai tantangan, salah satunya dalam masalah keuangan. Di setiap proyek yang dilelang BUMN, para vendor lokal harus bersaing menawarkan jasa yang murah dengan kualitas terbaik.

Sayangnya, meski sudah menekan harga dan memberikan kualitas terbaik, para vendor lokal masih harus menunggu lama untuk menerima pembayaran dari BUMN.

"Mereka (BUMN) kan juga mencari harga terendah. Mereka kan sudah banting harga juga ketika tender. Mereka juga pasti mepet, maka mereka mencari harga yang lebih murah, tapi berkualitas. Tapi ketika sudah murah, berkualitas, tetap lambat pembayarannya, tetap dicicil. Itu yang dikeluhkan teman-teman di daerah," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Andi Rukman N Karumpa seperti melansir detikcom.

Di sisi lain, proyek yang telah dibangun pun tidak secara otomatis membuahkan keuntungan bagi BUMN, sehingga pembayaran kepada vendor lokal semakin molor. Oleh sebab itu, menurut Andi pembangunan infrastruktur bisa menjadi mubazir apabila tak dimanfaatkan dengan baik.

"Ya mubazir, bikin jalan nggak dimanfaatkan karena tidak tumbuh sentra-sentra ekonomi di antara infrastruktur yang harganya triliunan itu," tegas Andi.

Untuk itu, menurutnya sangat penting membangun sentra-sentra ekonomi di sekitar infrastruktur yang sudah dibangun dan menghidupkan. Dengan demikian, proyek yang telah dikerjakan pun tidak sia-sia, justru bisa memberikan multiplier effect bagi masyarakat.

"Saya tidak ingin mengatakan pemerintah tidak punya master plan yang bagus, tidak punya perencanaan yang baik. Karena maksud saya kita menikmati infrastruktur yang ada saat ini. Ini pencapaian yang luar biasa. Tinggal bagaimana jalan tol yang dibangun itu menjadi multiplier effect bagi masyarakat sekitarnya," papar dia.

Ia memberi contoh proyek infrastruktur yang berhasil dibangun dan dibangun Indonesia pada masa Orde Baru. 

Menurutnya, ada infrastruktur yang sukses dibangun di Indonesia bersama dengan sentra-sentra ekonominya. Infrastruktur itu adalah distrik Kuala Kencana di Kota Timika, Papua. Kuala Kencana adalah kawasan yang dibangun bak kota modern, yang diresmikan sejak tahun 1995.

Kuala Kencana dibangun dan dilengkapi dengan pusat perbelanjaan, rumah sakit (RS), pasar, dan sebagainya sehingga menciptakan sentra ekonomi. Menurutnya, Kuala Kencana harus dicontoh pemerintah dalam membangun infrastruktur.

"Ini menurut saya Pak Soeharto memberikan contoh kepada kita, bagaimana cara membangun kota. Pertanyaan saya, selama 25 tahun berganti-ganti presiden ini, sudah beberapa kali berganti presiden, kita ini asik saja membangun infrastrukturnya, tetapi tidak membangun industrinya," ujar Andi.

Oleh sebab itu, ia berharap ke depannya proyek yang diberikan BUMN kepada vendor lokal harus dilengkapi dengan perencanaan lengkap, sehingga bisa memberikan manfaat.

Dengan demikian, BUMN yang sudah mengeluarkan anggaran besar-besaran untuk membangun infrastruktur tersebut bisa memperoleh pemasukan, dan tak lagi terlambat melunasi pembayaran kepada vendor lokal.

"Kalau ini jalan, multiplier effect ke pengusaha lokal ini sangat baik. Tapi lagi-lagi kami berharap siapapun partner BUMN yang terlibat supaya memperhatikan pembayaran ke teman-teman pengusaha agar tidak terlambat bayarnya," tutup Andi.

(Annisa\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar