Akibat Kerap Bawa Pistol, Guru Honorer di Boega Ditembaki TPNPB

Sabtu, 10/04/2021 16:04 WIB
Ilustrasi penembakan (tribunnews)

Ilustrasi penembakan (tribunnews)

law-justice.co - Seorang warga sipil di Beoga, Kabupaten Puncak, Papua, membenarkan penembakan terhadap seorang guru di Beoga oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB). Guru honorer SD Inpres Kelemabet Beoga Kabupaten Puncak bernama Oktovianus Rayo (40) ini ditembak dua kali hingga meninggal dunia pada Kamis (8/4/2021) sekitar pukul 10.00 WP di Kampung Julogoma, Distrik Beoga.

“Benar bapak guru almarhum Oktovianus Rayo ditembak mati. Almarhum adalah guru honorer tapi juga berdagang. Dia juga dicurigai mata-mata aparat keamanan. Sebab beberapa kali masyarakat jumpai dia sedang bawa pistol. Sehingga mereka (TPNPB) menembak mati dia,” kata warga Beoga ini dilansir dari Jubi, Sabtu (10/4/2021)

Sumber Jubi ini mengatakan, keberadaan TPNPB di Kampung Julogoma adalah untuk menyelesaikan konflik antar kampung. Kebetulan konflik antar kampung itu terjadi persis dekat dengan perumahan guru-guru termasuk tempat tinggal almarhum.

Saat konflik antar kampung itu terjadi, semua guru-guru diungsikan ke Ibu Kota Ditrik Beoga. Karena dikhawatirkan terjadi sesuatu terhadap guru-guru itu.

“Setelah guru-guru diungsikan lalu anggota TPNPB dari kelompok Sabinus Waker masuk ke kampung Julogoma, untuk mengamankan konflik antar kedua kelompok yang bertikai. Setelah konflik antar kampung bisa diamankan, anggota TPNPB tidak keluar dari kampung Julogoma, karena khawatir terjadi konflik susulan,” jelas warga ini.

Disaat yang sama, almarhum kembali membawa barang dagangannya ke rumahnya di kampung Julogoma. Teman teman guru dan masyarakat setempat sudah mengingatkan almarhum agar jangan kembali ke kampung dulu. Setelah TPNPB keluar dari Julugoma, baru mereka bisa kembali ke Julugoma.

Namun almarhum ngotot untuk kembali kerumahnya. Ia menghiraukan atensi teman-temannya untuk tidak pulang dulu. Setelah tiba di rumahnya ternyata anggota TPNPB ada yang tinggal di rumahnya. Almarhum marah dan meminta anggota TPNBP harus keluar dari rumahnya.

 

 

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar