100 Juta Dosis Vaksin Tak Jelas, Menkes Siapkan 4 Strategi

Jum'at, 09/04/2021 22:03 WIB
Menkes Budi Gunadi Sadikin ungkap srategi atasi embargo vaksin Covid-19 (Tribunnews)

Menkes Budi Gunadi Sadikin ungkap srategi atasi embargo vaksin Covid-19 (Tribunnews)

law-justice.co - Setelah adanya ancaman embargo dari sejumlah negara produksi vaksin, nasib 100 juta dosis vaksin Covid-19 yang sudah dipesan oleh pemerintah Indonesia menjadi tidak jelas.

Untuk itu, Pemerintah menyiapkan empat strategi untuk mengamankan pasokan untuk program vaksinasi tanah air. Pertama dengan bernegosiasi bersama GAVI dan juga AstraZeneca yang mengirimkan vaksin dalam dua jalur yakni multilateral dan bilateral.

Sebelumnya GAVI menjanjikan mengirimkan vaksin AstraZeneca gratis ke negara-negara miskin termasuk Indonesia. Namun karena produsen vaksin, India melakukan embargo jadi pasokan pun harus terhambat.

"Kita bernegosiasi keras dengan yang ada sebelumnya. Kita bicara dengan GAVI kamu sudah janji segini tolong dipenuhi janjinya. Saya tahu ada kesulitan tolong dicarikan solusinya jangan problem dilepas ke kita karena bukan salah kita," kata Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR RI, Jumat (9/4/2021).

Pembicaraan dengan GAVI sudah menuliskan surat pada afiliasi lembaga yakni WHO. Budi menuturkan juga berencana melakukan percakapan melakukan video conference membahas pasokan vaksin.

Hal yang sama juga akan dilakukan pada pihak AstraZeneca yang melalui bilateral. Budi memahami peerusahaan memiliki masalah, namun meminta juga menjaga komitmen pada Indonesia.

Diskusi bersama AstraZeneca dilakukan sampai tingkat menteri. Namun dia juga tak menutup kemungkinan melakukannya sampai antar kepala negara.

"Tolong dijaga komitmennya karena nanti merembet-rembet ke kita. Kita menjaga supply yang ada kita jaga mati-matian. Sampai AstraZeneca kita sudah sampai level tingkat menteri kalau perlu bisa antar kepala negara,` ujarnya.

Strategi lain melalui program vaksin gotong royong yang dipimpin BUMN dan juga Kadin. Jumlah vaksin pun lebih banyak dan berasal dari berbagai perusahaan seperti Sinopharm dan Sputnik.

"Jumlah vaksinnya banyak. Beberapa masuk ke BPOM berkembang terus jumlahnya. Ini bisa mengisi Bio Farma 15 juta Sinopharm, sudah bicara dengan Sputnik," kata dia.

Selain itu juga mencari cadangan 100 juta dosis. Salah satu kemungkinannya pada Pfizer yang berasal dari AS dan ke China bila dari GAVI dan AstraZeneca bermasalah.

Terakhir adalah melalui sumber lain di AS. Selama ini AS menutup diri dan tidak memperbolehkan vaksin buatan negara tersebut dikirim keluar. Menurut Budi, Indonesia sudah mulai melakukan diplomasi dengan pemerintah AS terkait masalah vaksin ini.

"Keempat sumber lain di AS. AS yang selama ini belum membuka diri dengan kecepatan vaksinasi ada kemungkinan mereka sudah sempat melontarkan kalau sudah, buka diri kalau sudah selesai. Kita sudah mulai diplomasi dengan AS," ungkap Budi.

(Gisella Putri\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar