Eks Teroris: `Anak IPA` Lebih Gampang Dicuci Otak Ketimbang `Anak IPS`

Jum'at, 09/04/2021 09:16 WIB
mantan anggota JAD M Sofyan Tsauri (tribun)

mantan anggota JAD M Sofyan Tsauri (tribun)

law-justice.co - Ustaz Sofyan Tsauri, mantan teroris yang kini bertobat menceritakan bagaimana seseorang bisa terpapar radikal dan tercuci otak menjadi teroris dengan mudah.

Ia pun menyebutkan ada kecenderungan dari anak eksakta atau yang berkaitan dengan ilmu konkret lebih mudah terpapar dan dicuci otak terkait radikalisme ketimbang anak sosial.

"Ada temuan, kenapa orang-orang sosial itu lebih punya daya imunitas dalam menangkal pemikiran radikalisme dan ekstrimisme? Karena orang sosial itu melihat sesuatu dari sudut pandang, meskipun dia nggak belajar ilmu fikih," kata Sofyan Tsauri dalam wawancara di podcast milik Deddy Corbuzier.

"Berbeda dengan orang eksakta yang lebih rentan. Karena orang eksakta itu, satu tambah satu harus dua, hitam putih. Dna hitam putih inilah zero intolerance. Jadi dia nggak boleh ada selisih," jelasnya lagi.

Ia juga mencontohkan terkait suburnya pemikiran intoleransi tersebut di kalangan fakultas teknik dan sebagainya.

"Pemikiran-pemikiran ini subur di Fakultas teknik, kedokteran dan sebagainya. Sedangkan orang sosial itu melihat persoalan itu secara utuh," tambahnya.

Sofyan mengakui bahwa hal itu sangat mudah dilakukan. Ia mengaku cuma butuh satu jam untuk mencuci otak calon pengantin, atau pelaku bom bunuh diri.

"Saya butuh satu jam dua jam (untuk mencuci otak), apalagi kalau dia punya masalah," tuturnya.

Namun ia juga mengatakan siapapun bisa terpapar, tidak peduli latar belakang sosial, umur dan jenis kelamin. Bahkan di tubuh TNI dan Polri juga bisa terpapar.

Bahaya ekstremisme ini masif, menyasar ke siapa saja," pungkas Sofyan.

(Annisa\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar