Sedih, Satu Siswa SMP Mati Ditembak di Intan Jaya Papua

Senin, 08/03/2021 18:49 WIB
Jenazah siswa SMP Melainus Nayagu dievakuasi usai ditembak TNI di Intan Jaya, Papua (jubi.co.id)

Jenazah siswa SMP Melainus Nayagu dievakuasi usai ditembak TNI di Intan Jaya, Papua (jubi.co.id)

law-justice.co - Kekerasan yang berujung kematian kembali terjadi di Intan Jaya, Papua. Kali ini korban dari kekerasan antara aparat keamanan dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) itu adalah seorang siswa SMP Negeri Sugapa, Melianus Nayagu.

Menurut anggota DPRD Intan Jaya, Oktovianus Wandikbo, Melianus Nayagau yang ditembak mati oleh TNI di Kampung Puyagiya, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya pada Sabtu (6/3/2021). Hal itu menurut Oktovianus Wandikbo setelah ia mengkoordinasikan dengan pihak keluarga.

“Anak yang dibunuh TNI itu bukan anggota TPN-PB/OPM, tapi dia masih duduk di bangku kelas II SMP Negeri Sugapa. Saya sudah tanya sama keluarga dari anak itu,” kata Oktovianus Wandikbo ketika dikonfirmasi Jubi, Minggu (7/3/2021).

Wandikbo mengaku belum bisa menghubungi pihak sekolah. Pasalnya nomor telepon dari kepala sekolah SMP Negeri Sugapa tidak aktif.

Menurutnya, ciri fisik atau penampilan OAP dari wilayah pegunungan Papua seperti di Intan Jaya, nyaris serupa satu sama lain sehingga dengan dalih itu selalu dipandang sebagai anggota TPN-PB OPM.

“Anak ini dia anak sekolah. Tapi kami orang gunung itu gaya penampilan semua sama. Ada kalung anggrek di dada, rambut gimbal, jaket besar, pakai sepatu lumpur, bawa noken, ada yang makan pinang. Tapi pihak aparat keamanan yang baru datang harus pelajari kebiasaan warga setempat, jangan anggap warga sipil juga sebagai anggota TPN-PB. Itu salah besar,” ujarnya.

Atas pembunuhan itu, ia berseru agar negara Indonesia harus membuka mata hati mengapa ada korban jiwa dari warga sipil seperti pendeta, pewarta, orang mono, dan anak sekolah.

“Masyarakat yang tidak tahu apa-apa jadi sasaran korban mulai dari pendeta GKII, katalis Katolik, orang gila atau telinga tuli, dan sekarang anak sekolah. TNI datang mau cari TPN-PB atau mau bunuh warga sipil? Ini harus diungkapkan,” tegasnya.

Ia menyatakan Indonesia sebagai negara yang memiliki kekuatan militer terlatih dan dilengkapi dengan intelkam seharusnya tepat sasaran, bukan korbankan warga sipil.

“Ini negara Indonesia melalui TNI dan Polri sudah terlalu lewat batas,” ujarnya.

Pastor Dekenat Moni Puncak, Keuskupan Timika, Pater Yustinus Rahagiar, Pr bersama tim pastoral dari Dekenat setempat telah mengunjungi jasad Melianus Nayagau yang diletakkan di halaman Gereja Katolik St. Paulus Baitapa, Kampung Puyagiya pada Minggu (7/3/2021).

Pater Rahangiar pada kesempatan itu membantu bahan makanan sekaligus memberi penguatan iman buat masyarakat di Kampung Puyagiya supaya terhindar dari gangguan keamanan.

“Bahan makanan yang saya berikan ini sekurang-kurangnya bisa buat makan selama beberapa hari di kompleks gereja ini,” katanya.

“Situasi masih kacau, semua warga yang sudah mengungsi ke gereja Katolik St. Paulus Baitapa supaya tetap waspada. Saya berharap berhati-hati keluar dan masuk dari tempat ini,” kata Pastor Yustinus Rahangir mewanti-wanti.

Pihak TNI menyatakan Melianus Nayagau merupakan anggota kelompok bersenjata itu, tewas ditembak tim TNI dari satuan Yonif Raider 715/MTL saat terjadi kontak tembak di Kampung Puyagiya, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua.

Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan atau Kogabwilhan III, Kolonel Czi IGN Suriastawa, mengatakan kontak tembak bermula ketika empat orang yang diduga anggota KKB terlihat berjalan dari arah Kampung Pesiga menuju ke Kampung Kumbalagupa, Distrik Sugapa. Kelompok ini membawa sepucuk senjata api.

Setibanya kelompok itu di Kampung Puyagiya, baku tembak dengan tim dari Raider 715/MTL, tak terhindarkan. Tak ada korban dari kubu TNI dalam insiden itu.

“Satu orang KKB tewas dan satu lainnya tertembak di kaki. Akan tetapi berhasil melarikan diri. [KKB ini] diduga dari kelompok Undianus Kogoya,” ujarnya.

(Gisella Putri\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar