Ancam Ledakkan Rumah Sakit Jika Tak Dikirim Bitcoin Rp199 Miliar

Minggu, 28/02/2021 09:03 WIB
Ancam Ledakkan Rumah Sakit Jika Tak Dikirim Bitcoin Rp199 Miliar

Ancam Ledakkan Rumah Sakit Jika Tak Dikirim Bitcoin Rp199 Miliar

law-justice.co - Seorang warga Berlin, Jerman, dinyatakan bersalah karena mengancam akan mengebom sebuah rumah sakit dan berusaha memeras Layanan Kesehatan Nasional Inggirs (National Health Service/NHS) Inggris sebesar £ 10 juta (setara Rp199 miliar) dalam mata uang kripto atau  dalam bentuk Bitcoin.  Pria tersebut keturunan  Italia berusia 33 tahun dihukum pada hari Jumat atas percobaan pemerasan .

Emil Apreda, sebelumnya hanya diidentifikasi sebagai Emil A. karena hukum Jerman, adalah seorang Italia berusia 33 tahun dan penduduk Berlin, Jerman, dengan latar belakang komputasi.

Pada hari Jumat, seperti diberitakan ZDnet, hakim ketua di Pengadilan Kriminal Distrik Berlin menghukum Apreda dengan kurungan tiga tahun penjara.

Apreda dituduh mengirim email ke NHS antara April dan Juni 2020, dan mengancam akan meledakkan bom di rumah sakit yang tidak disebutkan di Inggris kecuali dia dibayar 10 juta poudsterling dalam bentuk bitcoin.

Nigel Leary, Wakil Direktur Unit Kejahatan Siber Nasional Badan Kejahatan Nasional Inggris (NCA), mengatakan dalam sebuah penjelasan pada hari Kamis bahwa ancamannya "meningkat" selama enam minggu.

Email pertama dikirim pada 25 April, saat Inggris menerapkan lockdown pertama karena pandemi Covid-19. NHS adalah subjek pertama dari ancaman tersebut, dengan Apreda mengatakan dia akan menyimpan "paket bahan peledak" di rumah sakit kecuali permintaannya dipenuhi. NCA juga dikirimi email yang sama dalam beberapa jam.

Apreda memantau peristiwa dunia dan berusaha memanfaatkan tidak hanya pandemi COVID-19 tetapi juga mengklaim dia akan menanam bahan peledak pada protes Black Lives Matter. Selain itu, badan intelijen mengatakan bahwa Apreda mengancam keselamatan anggota parlemen saat peringatan pembunuhan anggota parlemen dari Partai Buruh Jo Cox.

NCA percaya bahwa ancaman tersebut adalah upaya "rekayasa sosial" yang dirancang untuk "memperoleh respon yang dia kejar" yakni pembayaran bitcoin. Badan intelijen tidak memiliki alasan untuk mencurigai bahwa Apreda memiliki akses ke bahan peledak.

NHS tidak menanggapi upaya pemerasan tersebut.

Jaksa penuntut mengatakan bahwa "percobaan pemerasan" berlanjut sampai penangkapannya pada bulan Juni, di mana intelijen Inggris bekerja dengan polisi Jerman untuk mendapatkan surat perintah dan memaksa masuk ke rumah tersangka.

Pengadilan Apreda dimulai pada 11 Desember di Jerman. Dia sekarang telah dijatuhi hukuman tetapi dibebaskan dengan jaminan sampai keputusan itu diratifikasi.

NCA menanggapi ancaman itu dengan serius. Leary mencatat bahwa pada saat pandemi COVID-19 memasuki puncaknya, ada "peningkatan kerentanan yang dalam" pada sistem medis.

Penyelidikan terhadap pelakunya membutuhkan "tanggapan yang dinamis dan signifikan," menurut NCA. Potensi risiko meningkat karena Apreda mengklaim bahwa dia adalah bagian dari "Combat 18", dan meskipun tidak ditetapkan sebagai organisasi teroris di Inggris, itu masih merupakan kelompok dengan kecenderungan ekstrimis sayap kanan.

Rumah sakit adalah area terbuka dan selama lockdown pertama adalah salah satu dari sedikit area tempat berkumpulnya orang-orang. "Kami harus turun tangan cukup cepat dan memastikan bahwa segala sesuatu yang dapat dilakukan, telah selesai," komentar Leary, tetapi menambahkan bahwa "tidak ada yang harus dilakukan untuk menghalangi orang mencari perawatan medis."


(Patia\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar