Pasca Uighur, China Menarget Muslim Utsul di Provinsi Hainan?

Jum'at, 26/02/2021 07:09 WIB
70 Tahun Berkuasa, Partai Komunis China Himpun Banyak Ketakutan (Detik)

70 Tahun Berkuasa, Partai Komunis China Himpun Banyak Ketakutan (Detik)

Jakarta, law-justice.co - Selain Uighur, kaum Utsul adalah komunitas Muslim baru yang menjadi sasaran kampanye nasional Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk mencapai apa yang mereka sebut sebagai ‘the Sinicization of Islam’.

Etnis Utsul tinggal di Provinsi Hainan, wilayah paling selatan Tiongkok yang memiliki iklim tropis dengan pantai pasir putih dan pohon palem yang rindang.

Perlakuan China terhadap etnis Muslim, khususnya Uighur telah disebut sebagai genosida dan dikecam secara internasional.

Kini Utsul, komunitas Muslim Sunni, telah menjadi target baru dalam pembatasan beragama yang telah berjalan di Beijing, sehingga komunisme dapat menjadi ideologi dominan di negara terbesar ketiga di dunia itu.

Gu Yi, seorang komentator politik yang beragama Islam, mengatakan kepada VOA Mandarin bahwa kampanye Sinisisasi Islam PKT dimaksudkan untuk menghilangkan budaya Islam.

"Mereka melakukan ini karena Islam memiliki sistem kepercayaan dan struktur sosialnya sendiri, yang merupakan ancaman serius bagi rezim totaliter seperti Partai Komunis China. Mereka tidak dapat mentolerir kelompok yang berpikir berbeda. Karena itu, mereka berupaya melakukan pemusnahan budaya masyarakat Islam,” katanya seperti melansir Republika.co.id, Kamis (25/2).

“Tujuan dari kampanye Sinisasi Islam adalah untuk memutuskan hubungan yang dimiliki Muslim dengan Islam, sehingga kelompok etnis Muslim di seluruh China kehilangan rasa persatuan yang mungkin diberikan agama mereka,” sambung Gu.

Setelah Beijing mempercepat kampanye di seluruh negeri pada 2018, pemerintah daerah mengeluarkan tindakan khusus termasuk menutup sekolah Islam, mengibarkan bendera nasional China di masjid-masjid, memindahkan bangunan Islam, dan menghilangkan tanda halal.

Mereka juga melarang anak-anak di bawah usia 18 tahun untuk belajar di masjid dan meminta umat Islam untuk mendaftarkan alamat dan identitas mereka pada pemerintah.

Pemerintah juga melarang penggunaan pengeras suara, yang dapat digunakan dalam adzan, dan transmisi radio mikro, yang digunakan untuk mendengarkan program yang tidak disetujui PKT. “(Kampanye) Itu untuk membuat minoritas ini menjadi kelompok yang pendiam dan penurut," kata Gu.

"Islam bukan hanya keyakinan agama bagi kebanyakan Muslim, melainkan juga tradisi budaya dan nasional. Banyak adat istiadat dan identitas psikologis orang beriman tidak dapat dipisahkan dari Islam,” ujarnya.

Sebagian besar Utsul tinggal di kota pelabuhan Sanya, di Desa Huixin dan Huihui, dan berbicara bahasa Chamic yang berhubungan dengan bahasa yang digunakan di Vietnam dan Kamboja, tempat mereka beremigrasi berabad-abad yang lalu. Utsul adalah salah satu dari sedikit kelompok etnis yang tidak dikenal di Tiongkok.

Meski begitu, komunitas Utsul di Sanya telah memainkan peran penting dalam hubungan Tiongkok dengan dunia Islam, menjadi tujuan resor bagi Muslim Tiongkok lainnya dan sebagai jembatan menuju komunitas Muslim di Asia Tenggara dan Timur Tengah, menurut New York Times.

Tindakan keras terhadap Utsul dimulai ketika pemerintah setempat dan pejabat Partai Komunis China (PKC) mengeluarkan "Rencana Kerja untuk Memperkuat Tata Kelola Komprehensif Komunitas Huixin dan Komunitas Huihui [Utsul]" pada 2019.

Di dalamnya, terdapat enam tindakan komprehensif, termasuk perbaikan disiplin, komunitas, simbol dan tanda, sekolah dan rumah sakit, audit keuangan wajib, dan pembongkaran dan relokasi bangunan ilegal," menurut Bitter Winter, sebuah publikasi yang berfokus tentang agama di China.

Aspek-aspek tersebut membuat wanita Muslim dilarang mengenakan jilbab di tempat kerja. Setiap komite yang dibentuk untuk mengelola masjid juga harus menyertakan anggota PKT di dalam struktur keanggotaannya. Alquran juga harus ditutupi dengan slogan resmi PKC.

Seorang pekerja di restoran halal lokal mengatakan bahwa pemerintah daerah telah memerintahkan penghapusan kata "halal" dari tanda dan menu. Dia menambahkan bahwa pemerintah juga telah memerintahkan penghapusan tanda-tanda di rumah dan toko yang bertuliskan "Allahu akbar”. Pemerintah daerah juga telah menutup dua sekolah Islam.

(Annisa\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar