Begini Cara untuk Menghindari Jerat Mafia Tanah

Sabtu, 20/02/2021 05:55 WIB
Cara menghindari jerat mafia tanah (Tribunnews)

Cara menghindari jerat mafia tanah (Tribunnews)

Jakarta, law-justice.co - Topik soal komplotan mafia tanah tengah menjadi perbincangan publik saat ini. Hal itu tak lepas dari peran eks Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal yang berani buka suara setelah sertifikat rumah milik ibunya dicuri oleh para mafia tanah.

Kini, penyidik Polda Metro Jaya telah menangkap 15 orang yang diduga sebagai komplotan mafia tanah terkait kasus pencurian sertifikat milik Ibunda Dino tersebut. Salah satu yang menjadi dalangnya adalah Fredy Kusnadi yang sempat berkoar-koar melawan Dino.

Dino mengungkapkan hal itu ke publik melalui media sosial Twitter miliknya, karena sang Ibunda tidak pernah menjual rumahnya, namun tiba-tiba nama sertifikatnya sudah atas nama orang lain.

"Agar publik waspada : satu lagi rumah keluarga saya dijarah komplotan pencuri sertifikat rumah. Tahu-tahu sertifikat rumah milik Ibu saya telah beralih nama di BPN padahal tidak ada AJB, tidak ada transaksi bahkan tidak ada pertemuan apapun dgn Ibu saya," tulisnya.

Dengan maraknya praktik para komplotan mafia tanah, maka kewaspadaan perlu dilakukan setiap orang. Lantas, bagaimana cara agar kasus pencurian sertifikat oleh mafia tanah tidak terulang kembali?

Pakar Hukum Pertanahan Lembaga Advokasi Konsumen Properti Indonesia Erwin Kallo mengatakan, setidaknya ada empat hal yang perlu dilakukan pemilik sertifikat:

1. Gunakan jasa broker bersertifikasi

Ketika hendak jual properti menggunakan jasa broker, cari yang telah bersertifikasi. "Kalau dia jual pakai broker, broker itu sekarang sudah ada izinnya, tanya izinnya. Sekarang broker itu punya izin operasionalnya," ujar Erwin, Sabtu (13/2/2021).

Kalau sudah bersertifikasi, broker tersebut telah dilatih dan dididik untuk menangani masalah jual-beli properti dengan benar. Sehingga, jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan, broker tersertifikasi ini bisa bertanggung jawab.

2. Calon pembeli harus jelas

Penjual juga dituntut untuk mengetahui dengan jelas siapa calon pembeli properti mereka. Erwin mengatakan, pemilik bisa menggunakan media sosial atau teknologi canggih apa pun agar tahu rekam jejak si pembeli rumah.
"Artinya, kecanggihan ini, bisa kita cek siapa yang mau beli, jadi harus jelas," ucap Erwin.

3. Jangan berikan dokumen sebelum transaksi

Langkah ketiga, penjual disarankan agar tidak sembarangan dalam memberikan dokumen kepada calon pembeli sebelum terjadinya transaksi.

"Jadi, lihat fisiknya saja, kalau mau beli, ya sudah datang ke notaris atau apa. Kan begitu," ucap Erwin.
Kalau sudah yakin membeli, si pembeli akan mendatangi notaris, dan notaris ini akan mengecek lewat Surat Keterangan Pendaftaran Tanah ( SKPT).

4. Sering cek ke Badan Pertanahan Nasional (BPN)

Selain itu, imbuh Erwin, pemilik sertifikat harus sering mengecek ke kantor BPN untuk memastikan asetnya tersebut masih atas nama mereka. "Tidak usah setiap bulan, ya paling tidak 6 bulan sekali lah, cuma cek-cek aja," katanya.

(Gisella Putri\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar