33 Orang Meninggal Usai Vaksinasi di Norwegia, RI Evaluasi Pfizer?

Selasa, 26/01/2021 15:20 WIB
Vaksin Covid-19 buatan Pfizer Inc AS

Vaksin Covid-19 buatan Pfizer Inc AS

Jakata, law-justice.co - Saat ini beberapa negara dunia telah memulai pelaksanaan program vaksinasi Covid-19.

Sebelumnya, sejumlah negara telah memberikan izin penggunaan darurat untuk melakukan vaksinasi Covid-19.

Covid-19 diketahui hingga saat ini masih melanda wilayah dunia, termasuk Indonesia.

Virus yang diduga muncul pertama kali di Wuhan, China pada 2019 silam hingga saat ini telah menewaskan jutaan warga dunia.

Sebelumnya, Norwegia melaporkan sebanyak 33 orang meninggal usai menerima vaksinasi Covid-19 buatan Pfizer

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko memastikan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan mengevaluasi vaksin Pfizer menyusul pemberitaan mengenai 33 orang yang meninggal seusai mendapatkan vaksin tersebut di Norwegia.

Moeldoko mengatakan pemerintah baru akan memutuskan penggunaan vaksin Pfizer setelah evaluasi rampung.

Pemerintah juga akan menganalisis data dari sejumlah negara yang menggunakan vaksin Pfzier sebagai vaksin prioritas.

"Tapi yang pasti, Indonesia melalui Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan BPOM akan mengevaluasi itu," kata Moeldoko seperti dikutip dari Anadolu Agency.

Pekan lalu, Badan Obat-obatan Norwegia mengumumkan setidaknya 23 orang lansia yang menerima suntikan vaksin Pfizer/BioNTech meninggal.

Badan tersebut mengatakan 13 kasus di antaranya diperkirakan terkait dengan efek samping vaksin, seperti demam dan mual.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran di seluruh dunia tentang efek samping vaksin.

Lebih dari 48.000 orang sejauh ini telah menerima dosis vaksin di negara itu.

Namun, Otoritas kesehatan di Norwegia pada mengatakan mereka tidak menemukan bukti hubungan langsung antara vaksin Pfizer/BioNTech dan kematian warga lanjut usia penerima vaksin.

"Berdasarkan laporan ini kami tidak dapat mengesampingkan bahwa efek samping yang umum, seperti demam dan mual, dapat berpengaruh pada kondisi yang lebih serius dan fatal pada beberapa pasien lemah dengan penyakit kronis yang parah," ujar Kepala Badan Obat-obatan Norwegia Sigurd Hortemo.

Otoritas kesehatan Norwegia tetap merekomendasikan evaluasi terhadap `pasien yang lemah atau sakit kronis parah`, untuk memutuskan apakah dirinya akan mendapatkan manfaat vaksin lebih besar daripada risiko efek samping.

"Kasus kematian yang dilaporkan tidak berdampak pada program vaksinasi Norwegia," tutur pernyataan tertulis dari Badan Obat-obatan Norwegia

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar