Akibat PPKM Jawa-Bali, Harga Telur di Peternak Anjlok

Senin, 25/01/2021 19:02 WIB
Produsen Telur alami kerugian akibat stok menumpuk (Detik)

Produsen Telur alami kerugian akibat stok menumpuk (Detik)

Jakarta, law-justice.co - Harga telur ayam ras dikabarkan anjlok di bawah biaya pokok produksi di Pulau Jawa menyusul rendahnya serapan selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Kalangan peternak menyebutkan minimnya serapan menyebabkan penumpukan stok di kandang.

Ketua Umum Asosiasi Peternak Layer Nasional Musbar Mesdi menjelaskan harga telur di tingkat kandang dipatok Rp16.000 sampai Rp17.000 per kg. Harga ini berada di bawah biaya produksi yang mencapai Rp19.000 sampai Rp20.000 per kg.

“Pembatasan di DKI Jakarta dan Jawa Barat sangat berpengaruh ke serapan, akibatnya telur-telur tidak bisa keluar kandang,” kata Musbar dilansir dari Bisnis, Senin (25/1/2021).

Data Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) menunjukkan harga telur di berbagai wilayah di Pulau Jawa per 23 Januari 2021 berkisar di Rp17.000 sampai Rp19.000 per kg. Harga ini lebih rendah dibandingkan dengan harga awal Januari yang masih di kisaran Rp19.000 sampai Rp21.000 per kg.

“Sebenarnya harga turun setelah Natal dan Tahun Baru lumrah, hanya saja sekarang diperburuk dengan PSBB dan kenaikan harga pakan,” kata dia.

Sebagaimana diketahui, kenaikan harga kedelai yang terjadi belakangan turut memengaruhi harga pakan mengingat bungkil kedelai (soybean meal) merupakan salah satu bahan baku produk ini.

Musbar pun mengatakan pasokan yang melimpah ini tidak bisa langsung diselesaikan dengan melakukan afkir dini pada ayam petelur. Dia menjelaskan afkir dini pada ayam layer tetap sulit direalisasikan karena tidak terserap optimal. Umumnya, ayam afkir diserap oleh UMKM yang menjual makanan.

“Biasanya yang menyerap warung soto, rumah makan, hanya saja selama pandemi serapan dari sana sedikit,” kata dia.

Karena itu, Musbar mengatakan kalangan peternak dan Kementerian Perdagangan serta Badan Ketahanan Pangan (BKP) sepakat untuk solusi jangka pendek dalam menyelesaikan masalah ini.

Musbar mengatakan pemasaran telur akan difokuskan ke pos-pos penjualan sembako di daerah yang bekerja sama dengan Divre Bulog.

Penurunan harga telur di tingkat produsen ini sedikit berubah dari proyeksi BKP. Sebelumnya, proyeksi BKP menunjukkan harga telur di tingkat produsen mencapai level tertinggi di kisaran Rp25.000 per kg pada minggu terakhir Desember 2020 yang diikuti dengan kenaikan harga di tingkat eceran menjadi Rp28.000 per kg.

Harga di tingkat produsen diperkirakan akan mulai turun, tetapi masih di kisaran Rp23.000 sampai Rp24.000 per kg pada awal Januari. Data BKP menunjukkan harga akan bertahan di kisaran Rp20.000 sampai Rp23.000 per kilogram sampai Maret 2021.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar