Gawat, WHO Ungkap Hal Lebih Buruk Soal Covid-19 di Tahun 2021

Senin, 18/01/2021 23:31 WIB
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus sebut kasus Covid-19 lebih sulit di tahun 2021 (kompas)

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus sebut kasus Covid-19 lebih sulit di tahun 2021 (kompas)

Jakarta, law-justice.co - Sudah setahun lebih pandemi COVID-19 melanda dunia. Meski sudah sedemikian lama, ternyata kondisinya belum juga membaik. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyampaikan bahwa pandemi COVID-19 akan lebih sulit pada tahun 2021.

Hal ini mengingat bagaimana virus Corona baru menyebar, terutama di belahan bumi utara karena varian yang lebih menular beredar. "Tahun ini akan memasuki tahun kedua, ini bisa lebih sulit mengingat dinamika transmisi dan beberapa masalah yang kami lihat," kata pejabat darurat WHO Dr Mike Ryan seperti dikutip dari laman Asiaone.

WHO, dalam pembaruan epidemiologi terbarunya, mengatakan sekitar lima juta kasus baru dilaporkan minggu lalu, peningkatan kasus ini kemungkinan akibat dari kegagalan pertahanan selama musim liburan.

"Pastinya di belahan bumi utara, khususnya di Eropa dan Amerika Utara, kami telah melihat musim dingin, orang-orang lebih banyak di dalam rumah, percampuran sosial yang meningkat dan kombinasi faktor-faktor yang telah mendorong peningkatan penularan di, banyak negara," kata Dr. Ryan.

Kepala Teknis WHO untuk penanganan COVID-19, Dr Maria Van Kerkhove, memperingatkan, setelah liburan, di beberapa negara situasinya akan menjadi jauh lebih buruk sebelum menjadi lebih baik.

Di tengah kekhawatiran yang berkembang akan penularan, kini muncul varian baru virus corona yang pertama kali terdeteksi di Inggris dan saat ini telah menyebar ke beberapa negara di seluruh dunia. Hal itu membuat pemerintah di seluruh Eropa pada hari Rabu pekan lalu mengumumkan pembatasan sosial yang lebih ketat dan dalam jangka waktu lebih lama untuk mencegah penyebaran virus corona semakin meluas.

"Saya khawatir kita akan tetap berada dalam naik turun naik turun tapi kami dapat melakukannya dengan lebih baik," kata Dr Van Kerkhove.

Sementara itu, otoritas kesehatan AS sedang menyelidiki kasus seorang dokter Florida yang meninggal 16 hari setelah menerima vaksin virus corona Pfizer-BioNTech, berdasar laporan The New York Times.

Istrinya menulis di postingan Facebook, dokter tersebut meninggal karena pendarahan otak. Pfizer mengatakan pihaknya secara aktif menyelidiki kasus tersebut.

"Tetapi saat ini kami tidak yakin bahwa ada hubungan langsung dengan vaksin tersebut", lapor The New York Times.

"Belum ada sinyal keamanan terkait yang diidentifikasi dalam uji klinis kami, pengalaman pasca pemasaran sejauh ini atau dengan teknologi yang digunakan untuk membuat vaksin," kata pihak Pfizer

(Nikolaus Tolen\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar