Beda Agama, Jaringan Islam Kebangsaan Dukung Komjen Sigit Jadi Kapolri

Sabtu, 16/01/2021 05:12 WIB
Jaringan Islam Kebangsaan dukung Komjen Pol. Listyo Sigit Prabowo jadi Kapolri (Berita Buana)

Jaringan Islam Kebangsaan dukung Komjen Pol. Listyo Sigit Prabowo jadi Kapolri (Berita Buana)

Jakarta, law-justice.co - Presiden Joko Widodo atau Jokowi sudah menyerahkan nama calon tunggal Kapolri ke DPR. Adapun yang diberikan oleh Jokowi adalah Komjen Listyo Sigit Prabowo, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri.

Namun, yang menarik dari sosok ini adalah soal agamanya yang bukan Islam. Dia adalah seorang Katolik. Dengan posisinya sebagai Non-Muslim diduga akan ditentang oleh kelompok tertentu.

Namun, hal itu tidak berlaku bagi Koordinator Nasional Jaringan Dai dan Mubalig Muda, Jaringan Islam Kebangsaan (JIK) Irfaan Sanoesi. Menurutnya, agama yang dianut oleh Komjen Listyo tak perlu dipermasalahkan.

Menurut Irfaan, dalam hal kebangsaan khususnya di Indonesia yang terdiri dari masyarakat majemuk, agama bukanlah sesuatu yang perlu dianggap sebagai masalah yang tabu.

Masyarakat Indonesia dewasa ini harus semakin naik kelas, artinya dalam pemilihan tokoh publik tidak perlu dipandang dan dipermasalahkan soal suku, agama, maupun ras seseorang.

Meski mayoritas pemeluk agama di tanah air adalah Islam, namun publik juga perlu memahami aspek lainnya dalam memilih pemimpin publik seperti kompetensi, integritas, hingga profesionalisme. Dalam tiga hal tersebut, kata Irfaan, Komjen Pol Listyo Sigit sudah bisa dikatakan layak untuk menjadi Kapolri menggantikan sosok sebelumnya, Idham Azis.

“Mestinya wacana yang dibahas bukanlah dari sisi agamanya sesorang. Kita harus naik kelas, harusnya wacana yang dibangun oleh publik adalah dari aspek kompetensi, profesionalisme dan integritas sesorang. Dari sisi ini, Pak Sigit layak menjadi Kapolri baru menggantikan Pak Idham Azis,” kata Irfan, Jumat (15/1/2021).

Oleh karena itu, Irfan mengajak publik untuk menilisik sejarah lebih jauh. Kala itu di periode tahun 1974 hingga 1978 ada nama Jendral Widodo Budidarmo yang dipilih menjadi Kapolri dan berasal dari kalangan non-muslim. Jadi sebenarnya, sosok Kapolri di luar agama Islam bukan sesuatu yang baru dan perlu dirisaukan.

“Jadi kami telah mendukung Kapolri pertama dari kalangan non-muslim adalah Jenderal Widodo Budidarmo periode 1974-1978,” ujarnya.

Dia juga membeberkan pencapaian Komjen Listyo Sigit tatkala menjabat sebagai Kapolda. Waktu itu, Komjen Sigit dikatakan berhasil membangun komunikasi dengan para ulama kawakan yang ada di tanah Banten. Oleh sebabnya, walaupun bukan dari kalangan muslim, untuk urusan komunikasi dan menjaga hubungan harmonis, sosok Komjen Sigit tidak perlu diragukan lagi.

“Ketika Pak Sigit menjadi Kapolda Banten, dia dekat dengan ulama di sana. Membangun komunikasinya pun tak usah diragukan lagi sehingga dapat membangun kamtibmas Banten yang harmonis dan kondusif,” tandasnya.

Ulama kharismatik Banten, Abuya Muhtadi Dimyathi meyakini bahwa Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo sosok yang amanah dan mampu mengamankan negara jika menjadi Kapolri. Secara terang-terangan, ulama kharismatik itu mengaku mendukung Komjen Listyo Sigit sebagai Kapolri.

Pasalnya, Abuya Muhtadi merasa yakin dengan kemampuan Komjen Sigit untuk menjadi orang nomor satu di tubuh Polri.

Apa yang disampaikan Abuya Muhtadi berdasarkan pengalaman bahwa Komjen Sigit pernah menjabat sebagai Kapolda Banten sejak 5 Oktober 2016 hingga 13 Agustus 2018. Menurut dia, saat itu Sigit mampu menciptakan situasi aman di Banten tanpa gejolak.

“Tugas utama dia terus amankan negara ini. Insya Allah mampu. Kalau beliau jadi (Kapolri), saya di belakangnya dan sebatas penguat saja. Saya ikut bagaimana keputusan pusat saja,” kata Abuya Muhtadi melalui siaran persnya.

Selain itu, kata dia, Komjen Sigit juga sangat dekat dengan masyarakat termasuk para ulama.

Hal senada juga disampaikan oleh adik Abuya Muhtadi, Abuya Murtadho. Menurutnya, selama berdinas di Provinsi Banten, Sigit bekerja dengan baik dan mampu merangkul semua golongan.

Bahkan Komjen Sigit waktu itu sempat menginstruksikan seluruh jajaran Polda Banten untuk membaca kitab kuning. “Itu bagus,” ujar Abuya Murtadho.

 

(Gisella Putri\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar