Usai Disuntik Vaksin, Apakah Kekebalan Tubuh Langsung Terbentuk?

Kamis, 14/01/2021 15:07 WIB
Presiden Joko Widodo menerima penyuntikan vaksin Corona pertama, di Istana Kepresidenan, Rabu (13/1/2021). Foto Repro Youtube.

Presiden Joko Widodo menerima penyuntikan vaksin Corona pertama, di Istana Kepresidenan, Rabu (13/1/2021). Foto Repro Youtube.

Jakarta, law-justice.co - Presiden Joko Widodo atau Jokowi telah menjadi orang pertama sekaligus membuka proses suntik vaksin Corona di Indonesia. Adapun tujuan dari vaksin ini adalah untuk membentuk imunitas atau kekebalan tubuh terhadap virus Corona.

Namun, apakah kekebalan tubuh langsung terbentuk usai disuntik vaksin Corona? Berikut penjelasan para ahlinya.

Menurut dokter penyakit dalam dari Eka Hospital BSD, Dr dr Indra Wijaya, SpPD-KEMD, MKes, FINASIM, rata-rata kekebalan tubuh terhadap COVID-19 bisa terbentuk secara optimal setelah penyuntikan dosis kedua vaksin. "Contohnya, Sinovac itu rentang dua minggu atau 14 hari, first dose dan second dose," jelasnya dalam IG Live Eka Hospital BSD bertajuk `Mengenal Vaksin Virus Corona`, Rabu (13/1/2021).

Dia menjelaskan, penyuntikan dosis pertama vaksin Corona bertujuan untuk merangsang sistem kekebalan tubuh agar dapat membentuk antibodi dalam melawan penyakit, yakni COVID-19. "Tujuannya supaya first dose mengenali antigen, antigen itu vaksin yang kita inject, kemudian badan kita bisa membentuk antibodi di titer tertentu," jelas dr Indra.

"Kemudian second dose itu dia bisa jadi lebih tinggi lagi (antibodinya)," tambahnya.

Bahkan, kata dr Indra, antibodi yang diciptakan dari vaksin Corona Sinovac masih akan tetap tinggi atau optimal dalam waktu 3 bulan ke depan. Namun, hingga kini masih belum diketahui berapa lama kekebalan tubuh tersebut dapat bertahan di dalam tubuh.

"Vaksin sudah 3 bulan juga masih tinggi sekali antibodinya yang terbentuk dari Sinovac," ucap dr Indra.

"Cuman ini yang masih kita lakukan penelitian apakah sampai 6 bulan, setahun, dan sebagainya. Kita lihat contoh dari vaksin flu, itu dilakukan setahun sekali dan mungkin saja COVID-19 juga diminta untuk setahun sekali. Kita tunggu saja penelitiannya," tutupnya.

(Nikolaus Tolen\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar