Fakta Efikasi Vaksin dan Reputasi Kesehatan Publik Indonesia

Selasa, 12/01/2021 12:43 WIB
Pengamat Kebijakan Publik, Achmad Nur Hidayat MPP (RMOL)

Pengamat Kebijakan Publik, Achmad Nur Hidayat MPP (RMOL)

Jakarta, law-justice.co - Publik Indonesia menunggu-nunggu hasil uji klinis 3 dari Sinovac yang dilakukan di Bandung Jawa Barat.

Akhirnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengumumkan bahwa uji efikasi vaksin sinovac tersebut di Indonesia sebesar 65.3%.

Berdasarkan hasil tersebut, akhirnya BPOM mengeluarkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization terhadap vaksin Covid-19 Sinovac asal China tersebut ada Senin 11 Januari lalu.

Efikasi Vaksin Sinovac 65.3% tersebut artinya adalah dari 100 orang yang divaksin, akan ada 34-35 orang yang masih bisa kena COVID-19. Bila yang terkena itu adalah kita sebagai orang awam, maka mungkin efikasi 65.3% tersebut tidak bermasalah.

Namun bila para tenaga kesehatan (nakes) dan mungkin termasuk Presiden yang terkena maka efikasi 65.3% tersebut bisa merusak reputasi vaksin itu sendiri.


Jangan main-main dengan Konsekuensi Efikasi

WHO mengatakan bahwa persyaratan vaksin adalah minimal efikasi adalah 50 persen. Persyaratan WHO tersebut sangat longar artinya bila ada 100 orang divaksin, akan ada 50 orang kena COVID. Tentunya, WHO menetapkan syarat minimal tersebut untuk memacu produsen vaksin saling berkompetisi mencari vaksin dengan efikasi tertinggi.

Para ahli WHO percaya bahwa semakin tinggi efikasi sebuah vaksin maka akan makin dipercaya vaksin tersebut diedarkan di masyarakat. Semakin rendah efikasinya, kepercayaan publik makin turun sehingga publik tidak berminat menggunakannya.
Negara harus mendukung vaksin yang memiliki efikasi vaksin yang tinggi sebab hal tersebut dapat menguatkan reputasi negara baik dimata warga negaranya sendiri maupun di mata intenasional.

Negara di kawasan ASEAN seperti Singapore telah memutuskan memberikan warganya vaksin yang efikasinya tinggi diatas 93% dan Indonesia memutuskan vaksin untuk warganya efikasinya hanya 65.3%.

Hal ini dapat dipersepsikan bahwa Pemerintah Singapura lebih peduli dengan kesehatan warganya dibandingkan Indonesia. Persepsi tersebut dapat melahirkan kebanggaan warganya terhadap negaranya sendiri dan akhirnya meningkatkan semangat nasionalismenya.

Poinnya adalah bila Negara ingin memberikan vaksin massal kepada warganya, maka negara wajib memberikan vaksin yang paling tinggi efikasinya di pasaran. Apalagi bila vaksin tersebut menimbulkan multiplier efek yang luas seperti mempercepat pemulihan ekonomi, memperbaiki kehidupan sosial dan meningkatkan semangat nasionalisme.

Disebutkan sebelumnya bahwa efikasi sinovac di Turki 91.23 persen dan di Brasil sebesar 78 persen jauh lebih tinggi daripada Indonesia.

Menurut BPOM, angka yang berbeda tersebut dipengaruhi beberapa faktor di antaranya mengenai jumlah subjek yang diteliti dan profil subjek.

Dalam uji klinis fase tiga di Bandung dilakukan terhadap 1.600 subjek dengan profil beragam. Jumlah tersebut jauh lebih sedikit sebab di Turki dilakukan terhadap 7.000 subjek dan di Brazil 13.000 subjek.

Persoalan profil subjek juga menentukan angka efikasi. Uji Sinovac di Brazil dan Turki profil subjek mereka adalah warga yang tingkat resiko kecil seperti pekerja kssehatan yang sudah terbiasa hidup sehat.

Vaksin yang stabil harusnya memberikan efikasinya konstan bukan tergantung pada banyaknya subjek dan profil mereka. Vaksin yang stabil akan memberikan efek yang sama pada semua subjek dan semua profil masyarakatnya. Hanya sayangnya vaksin stabil tersebut belum diakui secara konsensus sampai tahun depan 2022.

Pilihan Kebijakan

Dalam kebijakan publik, apo yang ditempuh oleh pemerintah Indonesia dengan memberikan vaksin dengan efikasi paling rendah dipasaran akan menjadi blunder bagi reputasi kesehatan Indonesia.

Tidak hanya blunder namun banyak menyia-yiakan sumber daya keuangan dan pendapatan negara di masa depan.

Harga vaksin sinovac terbilang cukup mahal.

 

Oleh: Achmad Nur Hidayat MPP (Pakar Kebijakan Publik)

(Tim Liputan News\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar