Respon PBSI Saat 8 Pebulutangkis Indonesia Terlibat Pengaturan Skor

Sabtu, 09/01/2021 06:34 WIB
PBSI respons putusan BWF soal 8 pebulutangkis Indonesia yang terlibat dalam pengaturan skor (inews)

PBSI respons putusan BWF soal 8 pebulutangkis Indonesia yang terlibat dalam pengaturan skor (inews)

Jakarta, law-justice.co - BWF telah memutuskan bahwa 8 pebulutangkis Indonesia terlibat dalam match-fixing atau pengaturan skor. Terkait skandal tersebut, Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) pun buka suara.

Kepala Bidang Humas dan Media PP PBSI, Broto Happy menegaskan bahwa kedelapan pebulutangkis tersebut dipastikan bukan atlet pelatnas Cipayung. PBSI pun ikut mengutuk sikap mereka yang mencederai nilai-nilai sportifitas.

"Bisa dipastikan, delapan pemain yang dihukum BWF tersebut adalah bukan pemain penghuni Pelatnas PBSI di Cipayung, Jakarta Timur," katanya melalui rilis PBSI.

Seperti diberitakan sebelumnya, BWF menghukum delapan pebulutangkis Indonesia karena terlibat pengaturan skor. Kasus memalukan itu terjadi di beberapa turnamen internasional.

BWF dalam rilisnya, Jumat 8 Januari 2020 menyampaikan telah melakukan investigasi terhadap delapan pemain tersebut dengan laporan dari whistleblower (pengungkap).

Delapan pemain itu adalah Hendra Tandjaya, Ivandi Danang, Androw Yunanto, Sekartaji Putri, Mia Mawarti, Fadilla Afni, Aditiya Dwiantoro, dan Agripinna Prima Rahmanto Putra.

Mereka melakukan tindakan memalukan tersebut pada medio 2015-2017. Dan pada kurun waktu tersebut, tak ada satu pun yang berstatus atlet pelatnas Cipayung.

Tiga panel independen (IHP) dari BWF yakni James Kitching, Rune Bard Hansen, dan Kevin Carpenter melakukan investigasi pada 13 September 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia. Sidang kedua rampung digelar pada akhir Desember 2020.

Hasil investigasi menemukan tiga dari delapan terduga itu telah melakukan koordinasi dan mengatur orang lain agar terlibat dalam perilaku tersebut.

BWF tanpa ampun memberikan hukuman. Mereka kini telah diskors dari semua kegiatan yang berkaitan dengan bulutangkis seumur hidup.

Sementara lima lainnya diskors antara enam sampai 12 tahun dan denda masing-masing antara US Dollar 3.000 dan US Dollar 12.000.

Sesuai prosedur yudisial, atlet memiliki hak untuk mengajukan banding atas sanksi BWF ke pengadilan abritase olahraga dalam waktu 21 hari sejak pemberitahuan keputusan.

(Nikolaus Tolen\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar