-
Trump mengeluarkan peryataan yang sedikit berbeda dengan yang sebelumnya dimana menyampaikan bahwa Washington tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan umum AS bulan depan, di tengah perundingan produktif untuk mengakhiri perang yang telah mengganggu pasar. Pernytaan `Adem` tersebut
Pernyataan `adem` Trump tersebut membuat kekhawatiran terhadap pasokan dari Timur Tengah sedikit mereda. Harga minyak dunia turun ke US$103 per barel pada Jumat (9/10) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan tak akan menyerang Iran dalam waktu dekat. Berdasarkan laporan Reuters,
Harga minyak mentah berjangka Brent turun 72 sen atau 0,7 persen menjadi US$103,53 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 52 sen atau 0,6 persen menjadi US$90,97 per barel.
Meski demikian, harga Brent masih berada di jalur kenaikan mingguan setelah ditutup menguat 4 persen pada Kamis (8/10). Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya serangan terhadap kapal-kapal pengangkut minyak dari Timur Tengah pada awal pekan ini.
Sebaliknya, harga WTI diperkirakan sedikit melemah secara mingguan, meskipun pasokannya terganggu akibat badai yang mendekati pesisir Teluk Meksiko di AS, negara produsen minyak terbesar di dunia.
Kemarin, Trump mengatakan tengah melakukan `perundingan produktif` dengan Iran. Ia juga menegaskan tidak ada rencana serangan sebelum pemilihan sela Kongres AS pada 3 November.
Pada hari yang sama, kantor berita Iran Tasnim melaporkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Teheran sedang meninjau tanggapan AS atas proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari.
AS masih menekan Iran secara ekonomi untuk mengakhiri perang yang kini memasuki bulan kedelapan.
Kamis kemarin, AS menjatuhkan sanksi baru terhadap sejumlah individu, jaringan, dan 17 kapal yang terlibat dalam pengangkutan minyak mentah, produk minyak, serta petrokimia Iran.
Harga minyak bergerak fluktuatif sepanjang pekan ini seiring meningkatnya ancaman terhadap pelayaran pengangkut minyak di kawasan Teluk dan Selat Hormuz.
Diberitakan Sebelum adanya perang , jalur strategis tersebut pelayaran pengangkut minyak di kawasan Teluk dan Selat Hormuz adalah yang paling padat yang dilalui pengiriman minyak dan bahan bakar yang setara dengan sekitar 20 persen pasokan global.