[INTRO]
Upaya dalam meredam dan membantu menekan kenaikan harga bahan bakar diesel atau solar. Negara-negara anggota G7 sepakat melepas hingga 100 juta barel minyak dari cadangan strategis . Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya harga energi global. Keputusan G7 juga muncul setelah pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali mendesak negara-negara Eropa agar memanfaatkan cadangan bahan bakar mereka guna menambah pasokan di pasar.
Pelepasan cadangan minyak tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan pasokan dan meredakan tekanan harga diesel yang terus meningkat.
Para pemimpin G7 mengatakan pelepasan cadangan akan dimulai segera dan berlangsung selama empat bulan. Sebagian besar pasokan akan dikeluarkan pada tahap awal, dengan pelepasan diesel dalam jumlah besar selama 20 hari pertama yang dikoordinasikan melalui Badan Energi Internasional (IEA).
"Dalam beberapa hari mendatang, kami akan mengadakan pertemuan dalam konteks IEA untuk membahas kemungkinan pelepasan diesel tambahan jika diperlukan," kata para pemimpin G7 dalam pernyataan bersama, dikutip dari CNBC International, Sabtu (3/10/2026).
Harga diesel di AS telah mencetak rekor tertinggi pada September dan masih bertahan di level tinggi. Pada Jumat, harga rata-rata diesel AS berada di US$6,37 per galon.
G7 terdiri dari Prancis, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan AS. Prancis saat ini memegang posisi presidensi kelompok tersebut. Uni Eropa juga turut berpartisipasi dalam pertemuan G7.
Sesaat sebelum pengumuman G7, Trump mengatakan negara-negara Eropa telah menyetujui pelepasan cadangan diesel dalam jumlah besar.
Trump menyebut Eropa telah "setuju untuk melepaskan sejumlah besar Minyak Diesel yang mereka simpan dalam jumlah besar."
Krisis pasokan bahan bakar global terjadi di tengah serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia serta gangguan pasokan energi di Timur Tengah akibat perang Iran.
Pemerintahan Trump sebelumnya menekan negara-negara Eropa agar menggunakan cadangan diesel sebagai alternatif sebelum AS mengambil langkah yang lebih ekstrem berupa pelarangan ekspor.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Kamis mengatakan mitra AS di Eropa "harus mempercepat pemenuhan komitmen mereka yang sudah ada dan segera menyediakan pasokan tambahan untuk mengatasi gangguan yang masih berlangsung."
Dalam kesepakatan terbaru, para pemimpin G7 juga sepakat untuk "menahan diri dari pembatasan ekspor energi dan produk energi" di antara negara-negara anggota.
Mereka juga menyerukan "kepada semua produsen untuk menahan diri dari menerapkan larangan yang dapat memperburuk ketegangan di pasar."
Langkah tersebut menjadi penting bagi pemerintahan Trump yang menghadapi tekanan politik dari anggota Partai Republik untuk mengatasi kenaikan harga bahan bakar menjelang pemilihan paruh waktu atau midterm elections pada November.
Trump sebelumnya mengatakan sedang mempertimbangkan larangan ekspor diesel dari AS. Namun, rencana tersebut mendapat penolakan keras dari industri minyak dan komunitas bisnis AS.
Trump kemudian tampak semakin menjauh dari opsi tersebut karena khawatir larangan ekspor diesel justru ikut mendorong kenaikan harga bensin di dalam negeri.
Adapun rencana kemungkinan larangan ekspor diesel AS sebelumnya telah memicu kekhawatiran besar di Eropa. Sebagai salah satu eksportir diesel terbesar dunia, keputusan AS akan berdampak langsung terhadap pasokan energi Eropa.
Diberitakan : Trump Ultimatum Jerman dan Prancis, Eropa Terancam "Kiamat" Energi
Menurut IEA, sekitar setengah dari impor diesel Uni Eropa pada Agustus berasal dari AS. Kondisi ini menunjukkan besarnya ketergantungan blok beranggotakan 27 negara tersebut terhadap pasokan dari AS jika Washington benar-benar membatasi ekspor.
Eropa kawatir pembatasan pasokan Disel ekspor AS
Uni Eropa tengah menghadapi persoalan serius terkait pasokan diesel setelah muncul kemungkinan Amerika Serikat membatasi ekspor bahan bakar tersebut.
Komisaris Perdagangan Uni Eropa Maroš Šefčovič mengatakan, Eropa memiliki kepentingan besar untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat guna menekan harga diesel maupun produk energi lainnya yang berasal dari minyak dan gas.
Pernyataan itu disampaikan Šefčovič kepada wartawan di Milwaukee, Amerika Serikat, dalam pertemuan para menteri perdagangan negara-negara G20, sebagaimana dilaporkan Reuters.
Menurut Šefčovič, kerja sama dengan AS menjadi penting karena pasar Eropa masih membutuhkan pasokan energi dari luar kawasan. Jika ekspor diesel AS dibatasi, pasokan yang tersedia bagi pembeli Eropa dapat berkurang dan berpotensi menambah tekanan terhadap harga.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Data yang dikutip dalam laporan terkait menunjukkan bahwa sekitar separuh impor diesel Uni Eropa pada Agustus berasal dari Amerika Serikat. Kondisi ini membuat perubahan kebijakan ekspor AS berpotensi langsung dirasakan oleh pasar Eropa.
Šefčovič bahkan menyebut pembatasan ekspor diesel oleh Washington sebagai langkah yang tidak terduga. Menurutnya, kebijakan semacam itu berpotensi memberikan dampak negatif terhadap prospek ekonomi Eropa.
Sederhananya, apabila AS mengurangi pengiriman diesel ke pasar internasional, negara-negara Eropa harus mencari pasokan dari sumber lain. Persaingan untuk mendapatkan bahan bakar dapat meningkat, terutama jika negara-negara lain juga membutuhkan pasokan dalam jumlah besar.
Situasi tersebut pada akhirnya dapat membuat biaya energi meningkat. Bagi Eropa, kenaikan harga diesel bukan hanya berdampak pada konsumen kendaraan, tetapi juga dapat meningkatkan biaya transportasi dan distribusi barang. Jika biaya logistik meningkat, tekanan terhadap harga berbagai produk di perekonomian Eropa juga bisa bertambah.
Karena itu, Šefčovič menekankan pentingnya kerja sama AS-Uni Eropa untuk menjaga ketersediaan pasokan dan menghindari lonjakan harga energi yang lebih besar.
Di sisi lain, munculnya wacana pembatasan ekspor diesel AS juga menunjukkan bahwa persoalan energi tidak hanya berkaitan dengan produksi minyak mentah. Kapasitas pengolahan minyak menjadi produk seperti diesel serta arus perdagangan antarnegara juga sangat menentukan harga yang dibayar konsumen.
Dengan demikian, perkembangan kebijakan ekspor AS menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan pasar Eropa. Jika pasokan dari AS tetap mengalir, tekanan terhadap pasar diesel Eropa dapat lebih terkendali. Sebaliknya, pembatasan ekspor dapat memaksa Eropa mencari sumber pasokan alternatif dan menghadapi kemungkinan kenaikan biaya energi.