Airlangga: China Sambut Saham Kereta Cepat Diambil Alih Kemenkeu

Jakarta, - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkap pihak China telah menerima informasi terkait langkah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang mengambil alih saham Kereta Cepat dari konsorsium BUMN PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

Hal tersebut disampaikan Airlangga usai menghadiri rapat Dewan Pengawas Danantara bersama jajaran petinggi Danantara Indonesia.

"KCIC juga sudah ada keputusan dengan Menteri Keuangan, sudah (dikomunikasikan dengan pihak China)," ujar Airlangga di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Kamis (6/8).

Ia menilai respons dari pihak China tergolong positif karena langkah ini dianggap sebagai bagian dari upaya penyelesaian masalah keuangan proyek tersebut.

"Kalau penyelesaian selalu baik (responsnya)," ujar Airlangga.

Ditemui di tempat sama, Istana melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi turut buka suara mengenai langkah ini.

Melalui pengambilalihan kepemilikan tersebut, skema penanggungan utang yang dimiliki KCIC kini berada di bawah kewenangan Kementerian Keuangan.

"Yang akan menanggung adalah dari Kementerian Keuangan," kata Prasetyo.

Namun, Prasetyo tak membeberkan secara mendalam mengenai detail teknis pengambilalihan ini.

Ia menyampaikan rincian skema pembayaran utang proyek kereta cepat tersebut akan diatur langsung oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

"Skemanya nanti Pak Purbaya yang atur," ujarnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengaku telah menerima informasi terkait penyelesaian utang kereta cepat ini.

"Kita ingin menyelesaikan urusan kereta cepat, restrukturisasi keuangan, dan sudah dijelaskan tadi oleh CEO maupun COO Danantara sudah duduk bareng kita semua," ujar AHY.

Dia juga menjelaskan peran kementeriannya yang mengoordinasikan interaksi antara Danantara, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Keuangan untuk melancarkan proses pengambilalihan tersebut.

"Sudah disepakati nanti pada saatnya akan seperti yang kemarin juga teman-teman sudah mendengarkan dari Menteri Keuangan akan mengambil alih dari apa yang telah dibicarakan selama ini terkait dengan restrukturisasi keuangan KCIC," jelas AHY.

Kesepakatan pengambilalihan ini tercipta usai Purbaya bertemu Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria pada Rabu (5/8).

Purbaya menyampaikan saham KCIC akan dikelola oleh salah satu Special Mission Vehicle (SMV) Kemenkeu, sehingga tidak menjadi beban langsung Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Dialihkan ke Kemenkeu, diolah saya semuanya. Tetapi nanti kami akan pakai salah satu tangan SMV fiskal untuk mengelola. Kami kan punya banyak, ada SMI dan lain-lain. Jadi enggak langsung tanggung jawab APBN, walaupun diolah pemerintah," beber Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta.

SMV sendiri merupakan lembaga khusus di bawah Kemenkeu yang bertugas mendukung pembiayaan pembangunan dan investasi pemerintah.

Sejumlah SMV antara lain PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII), PT Sarana Multigriya Finansial (SMF), Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN), Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), hingga Pusat Investasi Pemerintah (PIP).

Purbaya menegaskan pengalihan saham tersebut tidak berarti utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh akan dialihkan ke APBN.

Menurutnya, SMV memiliki kemampuan keuangan untuk mengelola aset tersebut tanpa memerlukan suntikan dana pemerintah.

"SMV kan punya untung juga, jadi sebagian akan dibiarkan ke situ. Kira-kira begitu gambaran kasarnya," jelasnya.

Dengan skema tersebut, kepemilikan saham Indonesia di KCIC tidak lagi berada di bawah konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), melainkan akan dikelola oleh SMV Kementerian Keuangan. Pantai& Kepulauan

Saat ini, 60 persen saham KCIC dimiliki konsorsium PSBI yang beranggotakan PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara (Persero).

Sementara 40 persen sisanya dimiliki konsorsium China melalui Beijing Yawan HSR Co. Ltd.

Purbaya juga memastikan proses pengalihan kepemilikan saham tersebut sedang dipercepat agar dapat diselesaikan sesuai target pada pertengahan September.

"Biasanya kan kita percepat, mungkin pertengahan September sudah akan clear," beber Purbaya.