Pergerakan rupiah sejalan dengan mata uang di kawasan Asia yang bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Yuan China menguat 0,06 persen, peso Filipina terapresiasi 0,26 persen, ringgit Malaysia naik 0,09 persen, dolar Singapura menguat 0,02 persen, serta yen Jepang menguat 0,18 persen.
Di sisi lain, won Korea Selatan melemah 0,89 persen, sementara dolar Hong Kong bergerak stabil.
Sementara itu, mata uang utama negara maju juga bergerak variatif terhadap dolar AS. Euro Eropa menguat 0,22 persen, poundsterling Inggris naik 0,07 persen, dolar Australia terapresiasi 0,32 persen, dan franc Swiss menguat 0,35 persen.
Sebaliknya, dolar Kanada melemah tipis 0,01 persen terhadap mata uang Negeri Paman Sam.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah seharusnya berpeluang menguat seiring pelemahan indeks dolar AS di tengah meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
"Rupiah seharusnya menguat hari ini oleh pelemahan indeks dolar AS di tengah meredanya tensi geopolitik Timur Tengah," jelas Lukman kepada mengutip dari CNN Indonesia, Senin (27/7).
Namun, menurutnya, sentimen domestik justru menekan pergerakan rupiah setelah pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memicu kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral.
"Namun pengunduran diri Gubernur BI menekan sentimen terkait kekhawatiran independensi BI terhadap rupiah maupun pasar ekuitas," bebernya.