Ragu AS-Iran Berdamai, Kapal Tak Berani Lewat Selat Homuz

Jakarta, - Kabar dari rencana kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran di Swiss pada Jumat (19/6/2026) mendatang tidak membuat perusahaan penyedia kapal ekspedisi untuk kembali berani melewati Selat Hormuz yang kondisinya penuh ancaman serangan drone dan rudal.

Mereka menanti kabar tersebut benar dilaksanakan, mengingat kesepakatan damai sebelumnya sempat tidak tercapai karena dilanggar oleh salah satu pihak.

Salah satunya yakni Mitsui O.S.K Lines asal Jepang, di mana pihaknya belum akan melanjutkan untuk melewati jalur perairan Selat Hormuz sampai kesepakatan tersebut benar-benar terwujud.

"Yang perlu diwujudkan bukanlah sekadar kesepakatan sederhana antara negara-negara terkait, tetapi harus bersifat nyata dan diterjemahkan ke dalam situasi sebenarnya di Selat Hormuz, sehingga perusahaan pelayaran dapat merasa nyaman untuk melewatinya," kata Jotaro Tamura, Kepala Eksekutif Mitsui O.S.K, dikutip dari Reuters, Selasa (16/6/2026).

Perang Iran yang dimulai pada 28 Februari lalu dengan serangan AS-Israel sebagian besar menghentikan pengiriman melalui jalur transit untuk sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, bersama dengan produk-produk seperti aluminium dan urea.

Mitsui O.S.K., salah satu dari tiga perusahaan pelayaran besar Jepang, memiliki armada lebih dari 900 kapal, termasuk kapal pengangkut curah, kapal tanker, dan feri.

Pihaknya pun khawatir jika kesepakatan tersebut kembali dilanggar dan tidak tercapai, membuat pemilik ekspedisi pun masih khawatir untuk melewati Selat Hormuz. Bahkan, dirinya pun mengungkapkan jika Selat Hormuz kembali dibuka, maka kapal-kapal tidak akan otomatis melewati selat tersebut dengan cepat, karena sudah banyak kapal-kapal yang menanti pembukaan selat tersebut.

"Mengingat pengalaman dalam beberapa bulan terakhir, saya pikir masuk akal untuk berasumsi bahwa mungkin akan memakan waktu setidaknya beberapa minggu atau bahkan sebulan untuk melewati Selat Hormuz, jika sudah dibuka," lanjut Tamura.

Penyelesaian kesepakatan antara Washington dan Teheran tidak mengubah pandangan Tamura, bahwa kapal-kapal pengirim minyak dan komoditas lain sudah dianggap sangat aman untuk melewati Selat Hormuz.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam sebuah unggahan di media sosialnya yakni Truth Social, bahwa kapal-kapal yang bermuatan minyak mulai bergerak keluar dari selat, melewati "Jalan Raya Selatan" yang benar-benar aman dan terjamin.