Jakarta, - Sebagaimana diketahui, beberapa waktu lalu nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak menguat pada perdagangan Senin (15/6) setelah sempat tertekan oleh ketidakpastian global.
IHSG melonjak 180,52 poin atau 3 persen ke level 6.188 pada awal perdagangan Senin (15/6). Sebanyak 519 saham menguat, 84 saham melemah, dan 104 saham stagnan.
Sementara itu, mata uang Garuda menguat 100 poin atau 0,56 persen ke level Rp17.760 per dolar AS.
Lantas, apakah penguatan ini menandai pemulihan yang lebih solid atau sekadar jeda sementara di tengah risiko yang masih membayangi pasar keuangan?
Pengamat Pasar Keuangan, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah dan IHSG yang menguat didorong karena sentimen kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran telah tercapai.
Adapun nota kesepahaman (memorandum of understanding/ MOU) bakal diteken Jumat (19/6) mendatang di Swiss.
Ibrahim menjelaskan salah satu isi draf perjanjian damai kedua negara tersebut adalah Selat Hormuz bakal dibuka. Dengan begitu, harga minyak dunia juga bakal turun berkat pembukaan selat tersebut.
Melansir Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent terpantau turun US$3,58 atau 4,1 persen menjadi $83,75 per barel pada perdagangan Senin (15/6).
Sementara, untuk harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$80,87 atau turun US$4,01 setara 4,72 persen.
"Iran itu membuka pemblokiran di Selat Hormuz sehingga membuat harga minyak itu turun. Artinya apa? Bahwa pada saat dolar (AS) menguat kemudian harga minyak turun, ini berdampak positif terhadap rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)," ujarnya seperti melansir cnnindonesia.com, Senin (15/6).
Dia mengatakan berkat kesepakatan damai tersebut, indeks saham di berbagai negara juga ikut menguat bersamaan dengan IHSG.
"Kita tahu bahwa indeks saham di Amerika itu terbang. Kemudian di Eropa juga terbang, di Asia juga terbang, sehingga berdampak terhadap Indeks Harga Saham Gabungan IHSG) di Indonesia," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menilai pembukaan Selat Hormuz merupakan awal yang baik bagi rupiah dan IHSG untuk terus mengalami penguatan. Ibrahim mengatakan salah satu masalah Indonesia saat ini minyak bumi yang masih mengandalkan impor hingga sekitar 1,5 juta barel per hari (bph).
Pemerintah saat ini dalam APBN tahun 2026 menggunakan asumsi harga minyak dunia sekitar US$70 per barel. Apabila harga minyak dunia terus turun hingga menyentuh angka di bawah asumsi tersebut, ia mengungkap hal tersebut mengindikasikan rupiah akan terus menguat.
"Nah, rupiah dan IHSG menguat apakah ini berlanjut atau sementara? Ya, kemungkinan akan berlanjut terus. Karena apa? permasalahan utama Indonesia itu sebenarnya kan masalah impor minyak," terang Ibrahim.
Kalau seandainya nanti (harga minyak) itu di bawah US$70 (per barel), ini mengindikasikan bahwa rupiah akan kembali menguat," sambungnya.
Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengungkapkan rupiah dan IHSG yang berhasil bangkit berkat dari kombinasi faktor global dan domestik yang membuat sentimen pasar berubah cukup cepat.
Dari dalam negeri, menurut Yusuf, kebijakan Bank Indonesia (BI) berupa kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,5 persen juga memberikan dukungan. Hal ini membantu menjaga daya tarik aset rupiah di tengah ketidakpastian global.
"Meredanya risiko geopolitik menjadi pemicu awal, sementara kebijakan moneter yang lebih ketat menjadi faktor yang memperkuat kepercayaan investor," ungkap Yusuf.
Kendati demikian, dia menilai penguatan rupiah dan IHSG sebagai fase stabilisasi dibandingkan sinyal pemulihan yang sudah terkonfirmasi. Yusuf menekankan sentimen pasar memang mulai membaik, tetapi fondasinya masih perlu diuji.
Yusuf menjelaskan jika melihat data sepanjang tahun, akumulasi dana asing yang keluar dari pasar Indonesia masih jauh lebih besar dibanding dana yang kembali masuk dalam beberapa waktu terakhir.
"Artinya, pasar masih membutuhkan inflow yang lebih konsisten untuk benar-benar mengubah arah tren," sebutnya.
Kemudian, dia pun menyinggung dalam waktu dekat juga masih ada sejumlah agenda penting yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar, mulai dari keputusan The Fed, evaluasi MSCI, rapat dewan gubernur Bank Indonesia (BI), hingga asesmen S&P terhadap kondisi ekonomi dan fiskal Indonesia.
Selain itu, perkembangan konflik di Timur Tengah tetap perlu dicermati karena stabilitas kawasan tersebut masih menjadi faktor penting bagi pasar global.
"Namun, masih diperlukan waktu untuk memastikan apakah ini hanya respons terhadap membaiknya sentimen jangka pendek atau benar-benar menjadi awal dari pemulihan yang lebih berkelanjutan. Saya kira satu hingga dua bulan ke depan akan menjadi periode yang cukup menentukan untuk menjawab hal tersebut," tutupnya.