Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan alias Zulhas mengatakan keputusan tersebut diambil dalam rapat koordinasi terbatas yang membahas perkembangan harga komoditas pangan nasional.
"Karena melihat perkembangan yang terakhir agar harga-harga sembako tidak boleh naik dalam situasi apa pun, perintah Bapak Presiden (Prabowo) tidak boleh membuat masyarakat jadi susah. Oleh karena itu bantuan beras atau bantuan pangan kita tambah tiga bulan," kata Zulhas dalam konferensi pers di Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Selasa (9/6).
Menurut Zulhas, bantuan akan diberikan dalam bentuk beras 10 kilogram kepada 33.244.000 penerima manfaat. Penyaluran dimulai pada Juli 2026, sementara dua bulan berikutnya akan disesuaikan dengan perkembangan musim paceklik.
"Juli harus Juli. Itu sebanyak tiga kali atau tiga bulan, 10 kg kali 33 juta (hasilnya) 244 ribu. Hampir 33,5 juta lebih kurang sedikit," ujarnya.
Ia memperkirakan total kebutuhan beras untuk program tersebut mencapai sekitar 1 juta ton. Jumlah itu akan diambil dari cadangan beras pemerintah yang saat ini mencapai sekitar 5,2 juta ton.
"Kalau stok kita 5,2 juta ton akan berkurang 1 juta ton lebih kurang. Agar hampir 34 juta masyarakat kita yang paling rentan di bawah ini tidak terdampak oleh perubahan kurs atau perubahan apa pun," bebernya.
Selain memperpanjang bantuan pangan beras, pemerintah juga memutuskan memberikan subsidi harga kedelai sebesar Rp2.000 per kilogram. Kebijakan itu akan berlaku untuk tahap pertama dengan alokasi 250 ribu ton kedelai.
"Itu dua keputusan penting yang kami lakukan, yaitu bantuan 10 kg selama tiga bulan untuk 33 juta lebih rakyat kita selama tiga bulan. Yang kedua subsidi harga kedelai Rp2.000 per kilo sebanyak 250 ribu ton untuk tahap pertama," jelas Zulhas.
Sebelum mengumumkan kebijakan tersebut, Zulhas mengatakan pemerintah lebih dulu mengevaluasi kondisi pasokan dan harga pangan nasional.
Berdasarkan laporan yang diterima dari Perum Bulog, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Perdagangan, stok pangan nasional saat ini masih dalam kondisi aman.
Ia menyebut sejumlah komoditas bahkan masih diperdagangkan di bawah harga acuan pemerintah (HAP), termasuk telur ayam yang mengalami penurunan harga di beberapa daerah seperti Blitar, Jawa Timur.