[INTRO]
Memasuki pekan kelima deru pesawat tempur dan dentuman rudal bergema di Kawasan Teluk Persia, menyalahi janji Amerika Serikat-Israel bahwa perang akan berakhir cepat. Jet-jet siluman F-35 sibuk melesat di langit Qeshm, rudal-rudal hipersonik Iran sibuk membelah udara menuju pangkalan Al-Udeid, dan dunia menghela napas ketika menyaksikan “pintu neraka” yang terbuka di ujung selatan Teluk.
Namun, di balik senjata perang yang beradu, ada keresahan yang terbit dari istana-istana megah di Abu Dhabi, Riyadh, dan Doha. Mereka notabene adalah sekutu regional AS, yang kini diuji di antara loyalitas pada Washington dan naluri bertahan hidup damai sebagai tetangga Iran. Ibaratnya, mereka terjepit di antara dua karang yang menghimpit, yaitu AS dan Iran.
Dalam hiruk-pikuk opini global yang sibuk menghitung berapa jumlah rudal yang berhasil diluncurkan dan jumlah kilang minyak yang meledak, satu pertanyaan mendasar adalah bagaimana perasaan negara-negara Teluk, yang menjadi pangkalan militer AS, dan juga menjadi target empuk serangan balasan dari Iran? Jawabannya mungkin tidak menyenangkan. Mereka merasa dikhianati dan dijadikan tameng manusia dalam perang yang tidak mereka inginkan.
Qatar, misalnya. Di tanahnya tegak berdiri pangkalan Al-Udeid, yang merupakan rumah bagi 10.000 personel militer AS, dan juga pusat komando regional terbesar AS. Selama dua dekade, Doha telah memainkan kartu diplomasi yang cerdik, yaitu bersahabat dengan Washington, namun, ia tetap menjaga komunikasi yang baik dengan Teheran. Qatar dan Iran, bahkan, berbagi ladang gas South Pars, sebagai sumber kehidupan ekonomi kedua negara. Kini, semua kebersamaan itu gugur. Setiap rudal Iran yang melesat ke arah pangkalan AS adalah ancaman langsung terhadap kedaulatan Qatar.
Selanjutnya, Arab Saudi, yang sudah lama bermain api dengan Iran di Yaman, Suriah, dan Lebanon. Riyadh, sejauh ini, mungkin yang paling vokal dalam mengecam Teheran, Namun, di balik retorika keras itu, terselip rasa takut yang mencekik. Ladang minyak Abqaiq, yang pernah diserang drone Iran pada 2019, kembali menjadi target sasaran. Pangeran Mohammed bin Salman mengetahui bahwa negaranya adalah target utama jika perang darat terjadi. Ironisnya, dialah yang paling berharap AS memenangkan perang ini. Namun, pada saat yang sama, dia yang paling takut jika kemenangan itu dibayar dengan hancurnya fasilitas minyak negaranya.
Setelah itu, ada Oman. Hingga kini, Muscat berusaha menjadi penyeimbang di kawasan, dan juga menjadi jembatan komunikasi antara Iran dan Barat. Kini, dalam perang terbuka ini, Oman memilih diam sebagai bentuk protes paling elegan terhadap AS dan sekutunya yang menyerang Iran pada saat negosiasi diplomatik tengah berlangsung.
Perkembangan terakhir menunjukkan AS sedang melakukan persiapan operasi darat, yang dimaksudkan sebagai pukulan terakhir bagi Iran. Dan, ketika Presiden Trump dengan entengnya menyebut negara-negara Teluk sebagai “teman yang harus membantu”, raja-raja di semenanjung itu tersenyum getir. Bantuan seperti apa yang dimaksud oleh Trump?
Siapakah yang akan menjadi pasukan infanteri dalam perang darat jika benar-benar terjadi? Tampaknya yang akan menjadi tulang punggung operasi darat adalah pasukan sekutu regional. Artinya, pasukan dari Saudi, Emirat, atau Qatar yang akan menjadi sasaran tembak dalam pertempuran melawan Pasukan Garda Revolusi Iran di medan perang. Selain itu, pasukan khusus AS juga akan menghadapi perang darat yang brutal melawan Iran, dan mungkin pegunungan Zagros akan menjadi kuburan massal bagi pasukan AS tersebut.
Di sini letak “dilema pasir hisap” (quicksand dilemma) yang dihadapi sekutur regional. Pada satu sisi, AS membutuhkan sekutu regional untuk memenangkan perang, Pada sisi lain, sekutu regional ketakutan bahwa kemenangan itu akan menghancurkan mereka. Karenanya, tidak ada skenario menyenangkan bagi sekutu regional. Jika AS yang tertawa di akhir perang, maka sekutu regional akan menuai kebencian dari umat Syiah di dalam negeri, dan juga menjadi sasaran dendam sisa-sisa jaringan pro-Iran selama satu generasi.
Jika Iran yang menang, atau bahkan hanya bertahan, maka sekutu regional akan hidup dirundung ketakutan akan pembalasan dendam di masa depan. Dan, jika perang berlarut-larut, maka sekutu regional akan menjadi penyandang dana utama yang terancam kehabisan sumber daya. Singkatnya, tidak ada skenario yang membahagian mereka.
Inilah harga yang harus dibayar mahal ketika sekutu regional menjadikan keamanan nasional sebagai komoditas impor. Selama beberapa dekade, negara-negara Teluk memilih membayar kontraktor keamanan asing tinimbang membangun kekuatan pertahanan yang mandiri. Mereka mengira dapat membeli perlindungan keamanan dengan uang minyak dan pangkalan militer kepada AS. Perang yang sesungguhnya mengajarkan bahwa tidak ada kontrak yang bisa menjamin keselamatan dan keamanan.
Kini, saat rudal dan drone menghiasi langit Teluk, para sekutu regional itu menyadari bahwa mereka telah menjadi sandera dalam perang. Mereka bisa berteriak mendukung, membuka pintu pangkalan, dan menandatangani cek miliaran dolar. Namun, ketika pasukan infanteri darat benar-benar dimobilisasi, peluru mulai beterbangan di tanah Arab, yang tersisa hanyalah pertanyaan menyakitkan, yaitu apakah perang ini benar-benar untuk keamanan mereka, atau hanya demi kepentingan AS yang memandang Teluk sebagai papan catur?
Pertanyaan itu mungkin tak akan pernah terjawab tuntas. Namun, satu hal yang pasti, yaitu ketika perang ini usai, peta geopolitik Timur Tengah akan berubah selamanya. Dan, negara-negara Teluk yang selamat tidak akan pernah lagi sepenuhnya percaya pada janji-janji manis perlindungan dari seberang lautan.