[INTRO]
Akhirnya Presiden Amerika Serikat memutuskan mengerahkan lebih dari 2.200 personel pasukan Marinir tambahan ke kawasan Iran. Memasuki minggu keempat perang, ketegangan di Timur Tengah memasuki fase baru.
Sejak mulai berlayar dari Pasifik, kemungkinan pasukan tersebut memakan waktu hingga dua minggu untuk tiba di Timteng, dan tugas mereka juga belum dijelaskan kepada publik.
Namun, jika unit ini bergabung dengan MEU ke-31 yang sudah diperintahkan bergerak sebelumnya, maka total kekuatan tambahan AS di wilayah tersebut mencapai hampir 9.000 personel.
Muncul kekhawatiran bahwa pasukan ini digunakan untuk merebut Pulau Kharg, titik vital perdagangan minyak Iran atau mengamankan Selat Hormuz yang menjadi jalur transit bagi 20 persen pasokan minyak dunia.
Meskipun jajak pendapat dari Universitas Quinnipiac menunjukkan 74 persen warga AS menentang pengiriman pasukan darat, Presiden Donald Trump sepertinya tak ambil pusing.
Saat ditanya mengenai potensi konflik darat ini menjadi "Vietnam kedua", Trump menjawab dengan lugas, "tidak, saya tidak takut. Saya benar-benar tidak takut pada apa pun."
Perang Vietnam terjadi pada 1955 hingga 1975. Ini adalah salah satu konflik paling berdarah di era perang dingin yang melibatkan Vietnam Utara berideologi komunis dan Vietnam Selatan dengan dukungan AS. AS terlibat dalam upaya membendung pengaruh komunisme.