Menhan AS Geram ke Media Dituding Gagal Hancurkan Situs Nuklir Iran

Washington, -  

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menyampaikan kritik tajam terhadap sejumlah media yang dinilai meragukan keberhasilan operasi militer AS dalam menghancurkan tiga situs nuklir milik Iran. Dalam pernyataannya pada program Media TV, Hegseth menuding banyak media, khususnya di dalam negeri, tidak hanya abai dalam memberitakan keberhasilan tersebut, tetapi juga aktif menyebarkan informasi yang menyesatkan. Menhan AS Geram ke Media Dituding Gagal Hancurkan Situs Nuklir Iran.

“Ini adalah momen bersejarah bagi militer Amerika Serikat. Tiga fasilitas nuklir utama Iran berhasil dihancurkan dalam satu operasi terkoordinasi. Namun sebagian besar media tidak memberitakan hal itu dengan jujur. Mereka justru meragukan dan mendistorsi fakta,” ujar Hegseth dengan nada geram.

Ia menuduh sejumlah media AS memanfaatkan situasi ini untuk melemahkan pemerintahan Presiden Donald Trump. Menurutnya, sikap media yang cenderung skeptis bukan semata karena isu substansi, tetapi dilatari oleh keberpihakan politik yang kuat.

“Media tampaknya memiliki agenda tersendiri. Anda sangat menentang Trump, seperti sudah menjadi bagian dari DNA dan darah Anda. Anda tidak ingin Trump berhasil, sehingga bahkan keberhasilan militer ini pun dianggap sebagai kegagalan,” lanjut Hegseth.

Lebih jauh, Menhan AS tersebut juga menuding media telah melakukan upaya sistematis untuk membingungkan publik, termasuk dengan membocorkan serta membelokkan informasi intelijen. Ia menyesalkan bagaimana aksi heroik para prajurit dan pilot tempur AS di lapangan justru diragukan kredibilitasnya.

“Anda berharap serangan itu gagal. Lalu Anda memutarbalikkan informasi, membocorkannya, dan memanipulasinya sedemikian rupa demi menciptakan keraguan publik—apakah pilot kita benar-benar berhasil atau tidak,” katanya.

Sementara itu, laporan yang beredar dari sejumlah lembaga intelijen AS tampak berseberangan dengan klaim Gedung Putih. Sebagian laporan menyebut bahwa tidak semua fasilitas nuklir Iran mengalami kerusakan signifikan, dan bahkan ada yang dikatakan masih utuh. Ketidaksesuaian ini semakin memicu kontroversi di dalam negeri, antara klaim keberhasilan militer dengan data faktual di lapangan yang belum sepenuhnya terverifikasi secara terbuka.

Ketegangan antara pemerintah dan media kembali mencuat, memperlihatkan bagaimana isu keamanan nasional kerap berbenturan dengan dinamika politik domestik dan persepsi publik. Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak independen terkait dampak pasti dari serangan tersebut terhadap program nuklir Iran.


Diberitakan Intelijen AS Bertentangan dengan Trump, Sebut Situs Nuklir Iran Masih Utuh


Sementara itu, Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, memastikan tidak ada indikasi Iran telah memindahkan uranium yang diperkaya dari salah satu fasilitas nuklir sebelum serangan AS pada 21 Juni lalu. Leavitt mengonfirmasi jika materi uranium yang diperkaya tersebut tetap berada di tiga lokasi fasilitas nuklir Iran pada saat diserang AS.

Hal ini diyakininya, karena Badan Intelijen AS tidak pernah luput mengawasi dengan ketat tiga situs nuklir Iran tersebut hingga terjadi serangan pada 21 Juni 2025. Leavitt juga mengatakan Presiden Donald Trump membuka pintu perundingan dengan Iran untuk menjamin bahwa Iran tidak memperkaya uranium dalam program nuklirnya.

Sebelumnya, penilaian awal intelijen AS menunjukkan bahwa serangan udara Amerika terhadap fasilitas nuklir Iran gagal membongkar elemen inti program nuklirnya. Ini bertentangan dengan klaim yang dibuat oleh Presiden Donald Trump dan para pembantunya.

Temuan tersebut, yang disusun oleh Badan Intelijen Pertahanan (DIA), unit intelijen utama Pentagon, dibagikan kepada CNN oleh empat sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Temuan tersebut bertentangan dengan pernyataan berulang Trump bahwa serangan tersebut "sepenuhnya dan sepenuhnya melenyapkan" kemampuan pengayaan uranium Iran, kata laporan tersebut.