Jakarta, - Saat ini kita sedang memasuki era digital, dimana teknologi informasi dan komunikasi merupakan salah satu jenis dari bentuk teknologi yang berkembang dengan sangat pesat. Salah satu teknologi kecerdasan buatan manusia yang muncul saat ini yaitu Artificial Intelligence (AI). Teknologi AI saat ini telah merambah jagad media sehingga memunculkan sisi positif juga negatifnya.
Akhir akhir ini telah muncul kekhawatiran akan pengaruh dari AI dijagad media. Kekhawatiran global terhadap penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam produksi berita dan misinformasi semakin meningkat diberbagai negara.Hal ini paling tidak bisa disimak dari sebuah laporan yang diterbitkan oleh Reuters Institute for the Study of Journalism.
Dari laporan tersebut muncul kekhawatiran dari para konsumen yang curiga terhadap penggunaan AI untuk membuat konten berita, terutama untuk topik sensitif seperti politik disuatu negara.
Berdasarkan survei tersebut, 52% responden di Amerika Serikat (AS) dan 63% responden di Inggris mengatakan mereka merasa tidak nyaman dengan berita yang sebagian besar dihasilkan oleh AI. “Sangat mengejutkan melihat tingkat kecurigaan ini,” kata Nic Newman, peneliti senior di Reuters Institute dan penulis utama Digital News Report, sebagaimana dilansir Reuters. “Orang-orang pada umumnya memiliki ketakutan tentang apa yang mungkin terjadi pada keandalan dan kepercayaan konten.yang dihasilkan oleh AI”.
Apa itu AI dan pengaruhnya terhadap jagad media ?. Benarkah AI rawan digunakan oleh pelaku kejahatan yang menguasai media untuk menjalankan agenda agenda terselubungnya ?
AI dan Media
Dilansir oleh Wikipedia, Kecerdasan buatan adalah kecerdasan yang ditambahkan kepada suatu sistem yang bisa diatur dalam konteks ilmiah atau bisa disebut juga intelegensi artifisial (bahasa Inggris: artificial intelligence) atau hanya disingkat AI, didefinisikan sebagai kecerdasan entitas ilmiah.
Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan kecerdasan buatan sebagai “kemampuan sistem untuk menafsirkan data eksternal dengan benar, untuk belajar dari data tersebut, dan menggunakan pembelajaran tersebut guna mencapai tujuan dan tugas tertentu melalui adaptasi yang fleksibel”.
Ada juga yang mendefnisikan AI sebagai simulasi dari kecerdasan yang dimiliki oleh manusia yang dimodelkan di dalam mesin dan diprogram agar bisa berpikir seperti halnya manusia. Sedangkan menurut Mc Leod dan Schell, kecerdasan buatan adalah aktivitas penyediaan mesin seperti komputer dengan kemampuan untuk menampilkan perilaku yang dianggap sama cerdasnya dengan jika kemampuan tersebut ditampilkan oleh manusia.
Dengan kata lain AI merupakan sistem komputer yang bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang umumnya memerlukan tenaga manusia atau kecerdasan manusia untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.
AI sendiri merupakan teknologi yang memerlukan data untuk dijadikan pengetahuan, sama seperti manusia. AI membutuhkan pengalaman dan data supaya kecerdasannya bisa lebih baik lagi. Poin penting dalam proses AI adalah learning, reasoning dan self correction. AI perlu belajar untuk memperkaya pengetahuannya. Proses belajar AI pun tidak selalu disuruh oleh manusia, melainkan AI akan belajar dengan sendirinya berdasarkan pengalaman AI saat digunakan oleh manusia.
Saat ini teknologi AI sudah banyak bertebaran dan diterapkan di berbagai bidang kehidupan termasuk di industri media.Era digital yang semakin berkembang pesat telah mempengaruhi berbagai aspek, termasuk dunia jurnalistik.
Di dunia jurnalistik, AI menjadi salah satu inovasi untuk mengubah lanskap media. Dalam beberapa tahun terakhir, nyatanya AI sudah dimanfaatkan sebagai alat yang digunakan oleh para jurnalis dalam menciptakan konten berita.
Dalam kaitan tersebut, AI menggunakan algoritma dan teknologi kecerdasan buatan untuk membantu dalam produksi, distribusi, dan kurasi konten berita. Mereka dapat mengumpulkan, memverifikasi, dan menganalisis data secara otomatis dari berbagai sumber. AI juga dapat membantu dalam memprediksi tren berita, menganalisis sentimen publik, dan mempersonalisasi pengalaman berita untuk pembaca.
Selain itu, AI juga dapat menghasilkan konten berita dengan cepat dan efisien. Mereka dapat menghasilkan ringkasan berita, artikel berdasarkan data mentah, atau laporan berdasarkan pola yang ditemukan dalam data.
Namun, peran jurnalis AI tidak sepenuhnya menggantikan peran jurnalis manusia. Mereka lebih berfungsi sebagai alat bantu yang membantu jurnalis manusia dalam mengumpulkan dan menganalisis informasi dengan lebih efektif.
Bagi pihak yang melihat otomatisasi sebagai kesempatan untuk menciptakan proses produksi yang lebih murah, tapi mendatangkan keuntungan lebih cepat dan lebih besar, AI adalah jawabannya.Situasi itu semakin didukung oleh ekosistem bisnis media saat ini yang memberikan ganjaran lebih besar kepada konten sederhana tapi populer, ketimbang konten yang dihasilkan dari proses panjang dan mahal, tapi bernilai tinggi, seperti liputan investigative misalnya.
AI Rawan Di salahgunakan
AI sebagai buatan manusia, maka tergantung manusia sebagai penggunaannya. Ia bisa dimanfaatkan untuk menyetir manusia, memanipulasi kemampuan manusia, agar mencapai tujuan dari pemilik dan pengatur AI tersebut. Konten-konten yang AI buat bisa menyetir manusia, tergantung dari operatornya.
Sehingga kalau kita pahami AI itu bisa seperti pisau bermata dua. Di satu sisi dia bisa sangat bermanfaat untuk mendorong kerja-kerja jurnalisme tetapi disisi lain bisa disalahgunakan pemanfaatannya sehingga melabrak rambu rambu moral dan etika.AI bisa digunakan sebagai sarana untuk melakukan kejahatan misalnya digunakan untuk memproduksi berita bohong atau memanipulasi informasi untuk kepentingan pembuatnya atau sponsornya.
Kecerdasan buatan ini, jika digunakan tanpa hati nurani, akan merusak tatanan nilai masyarakat.Harus selalu diingat bahwa aktivitas jurnalistik tidak sekadar mencari informasi untuk disampaikan dalam bentuk konten berita. Kerja jurnalistik mengandung tanggung jawab besar secara moral dan etika. Tapi hal ini yang tidak dimiliki oleh teknologi AI.
Karena nilai dan moral dalam jurnalistik tidak bisa terpetakan dalam bentuk verbal, sehingga akan sulit jika hal ini dimasukkan menjadi panduan dalam mesin proses AI. Norma dan moral dalam jurnalistik bukan hanya sekadar larangan dan izin yang diperbolehkan, tetapi tetap dibutuhkan penilaian, mana yang dianggap bisa masuk dan tidak masuk dalam berita.
Alhasil kita bisa bayangkan jika pemilik modal yang tidak bermoral sebagai penguasa atau pemilik AI maka ia dapat menggunakannya (AI) untuk menggiring perspektif masyarakat sesuai seleranya. Karena AI bisa membaca kekuatan media sosial, membajak polling, survei, mendikte manusia untuk memiliki kesadaran palsu dan seterusnya
Lewat media yang dimainkannya, AI dapat menjadi alat manipulasi suara rakyat di negara demokrasi. Jika dalam pelaksanaan pemilu maka bahayanya adalah AI dapat mengendalikan keputusan politik, calon yang dikontrol kapital akan menang dan semuanya menjadi milik kaum kapitalis. Apalagi saat ini belum ada ketentuan yang mengatur AI sehingga bebas untuk penggunaannya.
Karena itu, peran teknologi AI dalam media massa seyogyanya harus dikontrol oleh manusia. AI sebagai terobosan teknologi di industry media harus mendapatkan pengawasan dan kontrol agar tidak disalahgunakan pemanfaatannya
Saat ini dengan tiadanya kontrol dan pengaturan tentang AI khususnya di lingkungan media, sangat dikhawatirkan dampak negative yang akan ditimbulkannya. Apalagi AI ini seperti hantu yang menyusup secara rapi di jagad media tanpa terdeteksi pergerakannya. Ia bagaikan siluman yang mampu mempengaruhi opini massa dengan data data palsunya sehingga keberadannya sangat menguntungkan bagi pemilik modal untuk menjalankan agenda agenda terselubungnya.
Fenomena tersebut kiranya yang membuat kekhawatiran masyarakat dunia terkait dengan penggunaan AI dalam produksi berita. Seperti laporan yang diterbitkan oleh Reuters Institute for the Study of Journalism. Laporan menunjukkan, konsumen curiga terhadap penggunaan AI untuk membuat konten berita, terutama untuk topik sensitif seperti politik.
Berkaitan dengan penggunaan teknologi AI ini, media asing pernah menyoroti penggunaan AI dalam kampanye Pemilihan Presiden di Indonesia. Media Singapura, Channel NewsAsia, menyoroti cara kampanye calon presiden Prabowo Subianto yang memakai kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) hingga berujung unggul di pemilihan umum yang lalu. CNA merilis laporan berjudul "Mantan jenderal kontroversial akan jadi presiden baru Indonesia. Bagaimana cara Prabowo Subianto melakukannya?" pada Jumat (16/2).
Nyatanya, penggunaan AI dalam berbagai poster kampanye yang tersebar di Indonesia membuat berbagai masyarakat `terpincut` dengan ungkapan yang disebut `Gemoy` yang merupakan bahasa gaul untuk lucu.Salah satunya, Fika Juliana Putri, seorang penjaga toko berusia 19 tahun di Jakarta Timur, yang memutuskan untuk memilih mantan komandan pasukan khusus yang pernah ditakutinya. Dia menyukainya, katanya, karena dia `gemoy`."Saya pilih dia karena dia gemoy, itulah alasan utamanya," ujar Fika dilansir Reuters, dikutip Kamis (8/2/2024).
Adapun, versi kartun Jenderal Prabowo Subianto yang bermata kelinci digambarkan menggunakan AI generatif dan terpampang di papan reklame di seluruh Indonesia. Foto tersebut direproduksi di kaus dan stiker, dan ditampilkan secara mencolok di postingan bertanda #Prabowo yang ditonton sekitar 19 miliar kali di TikTok.
Kartun yang dibuat oleh AI ini menjadi pusat perubahan citra pemilu bagi Prabowo, yang unggul jauh dalam jajak pendapat. Alih-alih menggambarkan dirinya sebagai seorang nasionalis yang berapi-api, seperti yang ia lakukan dalam dua pencalonan presiden sebelumnya yang gagal, slogan baru pria berusia 72 tahun ini adalah `gemoy`.
Prabowo dan "kembarannya" yang diciptakan menggunakan teknologi dari perusahaan AS Midjourney Inc, memimpin ratusan kandidat dalam menggunakan alat AI generatif untuk membuat seni kampanye, melacak sentimen media sosial, membangun chatbot interaktif, dan menargetkan pemilih.
Tim kampanye Prabowo dan Midjourney, yang pedomannya melarang penggunaannya untuk kampanye politik, tidak menanggapi permintaan komentar."Ini adalah pemilu pertama yang kami lihat memanfaatkan alat-alat ini dalam skala besar," kata Katie Harbath, yang hingga tahun 2021 menjabat sebagai pejabat tinggi kebijakan pemilu di Meta (META.O), membuka tab baru dan sekarang menulis buletin tentang teknologi dan demokrasi.
Harbath mengungkapkan dirinya terkejut bahwa alat AI telah diadopsi dalam kampanye di Indonesia dengan begitu cepat, sementara itu, pemerintah Indonesia belum merumuskan aturan yang mengikat mengenai penggunaan alat AI.
Ahasil, tiadanya aturan membuat perangkat AI bisa dimanfaatkan dengan seenaknya tanpa harus kuatir akan ada sanksinya. Ia bisa membajak polling, survei, mendikte manusia untuk memiliki kesadaran palsu dan seterusnya. Apakah ini berarti Tim Kampanye 02 di pemilu 2024 yang lalu telah memanfaatkan ini semua untuk pemenangannya ?