Saat Eddy Hiariej Maju Bicara sebagai Ahli Prabowo, BW Walk Out di MK

Jakarta, law-justice.co - Salah Seorang Tim Kuasa Hukum Anies-Muhaimin, Bambang Widjojanto (BW) keluar atau walk out dari ruang sidang Mahkamah Konstitusi (MK) ketika Eks Wakil Menteri Hukum dan HAM (Wamenkumham), Edward Omar Sharif Hiariej (Eddy Hiariej) maju untuk memaparkan keterangannya sebagai ahli.

BW memastikan akan masuk ke ruangan sidang lagi ketika Eddy, ahli yang dihadirkan oleh tim Prabowo-Gibran telah selesai menyampaikan paparannya.

Baca juga : Resmi, Kevin Sanjaya Umumkan Pensiun dari Badminton

"Karena saya merasakan keberatan, saya izin untuk mengundurkan diri ketika rekan saya Eddy Hiariej akan memberikan penjelasan. Nanti saya akan masuk lagi di saksi lainnya sebagai konsistensi sikap saya," kata BW.

BW kemudian meninggalkan tempat duduknya dan meninggalkan ruang sidang.

Baca juga : KPK Didesak Periksa Harta Kekayaan Ketua Banggar DPR Said Abdullah

"Silakan," kata Ketua MK Suhartoyo.

Melihat hal itu, Eddy ingin memberikan penjelasan sebelum BW meninggalkan ruang sidang.

Baca juga : Usman Hamid: Larangan Jurnalisme Investigasi ‘Titipan Pemerintah’!

"Majelis sebelum saudara Bambang Widjojanto meninggalkan tempat..." kata Eddy yang dipotong Suhartoyo.

"Enggak apa-apa Pak Eddy itu kan hak dia juga," timpal Suhartoyo.

Eddy mengaku tak terima dengan pernyataan BW jika masih ada penyidikan baru di kasus korupsi yang sempat menimpanya. Ia mengutip pernyataan Juru Bicara KPK Ali Fikri yang mengatakan akan diterbitkan Sprindik Umum dengan melihat perkembangan kasusnya.

"Kedua kasus saya sebagai tersangka sudah saya challenge di PN Jaksel. Dan putusan tanggal 30 batalkan status saya sebagai tersangka," kata Eddy.

"Jadi saya beda dengan Bambang Widjojanto ketika ditetapkan sebagai tersangka dia tak challenge dan mengharap belas kasihan Jaksa Agung untuk berikan deponering," tambahnya.

BW sempat memprotes kehadiran eks Wamenkumham Eddy dihadirkan sebagai ahli oleh Prabowo-Gibran sebelum sidang dimulai tadi pagi.

Sebelumnya Eddy Hiariej ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus dugaan suap Rp8 miliar oleh KPK. Namun ia tak terima dan mengajukan pra peradilan.

Pengadilan kemudian mengabulkan praperadilan Eddy dan status tersangkanya gugur.